VdBackground 02  .jpg

Mengapa Sulit Melihat Kesalahan Anda Sendiri?

Print
Created on Friday, 21 June 2019 Last Updated on Wednesday, 10 July 2019 Written by Phi-D


Setiap manusia dikarunia otak yang cerdas dan dibekali berbagai pengalaman hidup yang berbeda-beda. Oleh karena itu, tidak heran jika setiap manusia dapat memiliki perspektif atau cara pandang yang berbeda-beda. Akan tetapi saat itu menyangkut keyakinan tentang sesuatu, perbedaan cara pandang dapat membuat keadaan menjadi kurang menyenangkan. Terkadang seseorang yang begitu yakin akan pendapat, ide, dan pemikirannya sendiri malah menjadi sulit melihat kesalahan berpikirnya sendiri. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Julia Galef, seorang penulis dan pelatih untuk keterampilan membuat keputusan, menyelidiki tentang motivasi dibalik cara pandang seseorang dan bagaimana cara pandang tersebut akan sangat berpengaruh pada cara manusia menerjemahkan dan memahami informasi. Galef mengilustrasikan perbedaan ini dengan menggunakan cara pandang dari seorang prajurit dan seorang pengintai. Seorang prajurit umumnya akan dengan patuh dan teguh mempertahankan pendiriannya, sedangkan seorang pengintai diharuskan menjaga tinggi rasa ingin tahunya dengan terus mempertanyakan segala hal, termasuk pemikirannya sendiri. Untuk memahami ilustriasi ini, bayangkan Anda sedang bermain peran dalam kedua situasi di bawah ini.

Situasi 1:
Anda adalah seorang prajurit di tengah pertempuran yang sengit. Ini berarti di mana saja dan kapan saja, Anda akan selalu waspada, refleks Anda sangat terlatih sehingga Anda bergerak dengan cepat dan lincah . Hanya ada hal penting ini yang selalu Anda pikirkan, yaitu melindungi diri, melindungi rekan-rekan seperjuangan Anda dan wilayah Anda dengan menaklukkan musuh.

Situasi 2:
Anda adalah seorang pengintai yang lihai. Sebagai pengintai, Anda dituntut untuk memahami, bukan untuk menyerang atau pun bertahan seperti prajurit. Pengintai berperan untuk memetakan daerah, mengidentifikasi rintangan dan hambatan apa pun yang mungkin akan ditemukan. Dan seorang pengintai harus memiliki rasa ingin tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi secara akurat.

Dalam dunia militer, keterampilan untuk menjadi prajurit dan pengintai sama-sama penting serta sama-sama dibutuhkan. Oleh karena itu, kedua peran di atas tidak ada yang salah sehingga kedua peran tersebut dapat dijadikan sebagai ilustrasi dalam variasi pola berpikir, yaitu cara yang akan dilakukan manusia sewaktu memproses informasi, pemikiran dan ide dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada yang salah dalam kedua cara pemikiran tersebut. Sebenarnya, pilihan pola pikir Anda akan menentukan apakah Anda akan dengan teguh mempertahankan keadaan atau mempertimbang keadaan secara mendalam untuk mengambil keputusan yang tepat. Perhatikan ilustrasi sebuah kasus sejarah berikut ini untuk menggambarkan cara kerja kedua pola pikir tersebut.


Skandal dalam Kisah Sejarah

Kala itu kumpulan robekan kertas berubah cepat menjadi suatu skandal politik terbesar dalam sejarah. Kisah ini terjadi di Perancis pada tahun 1894 dimana perwira-perwira dari seorang jenderal Perancis menemukan robekan kertas di dalam keranjang sampah. Setelah para perwira menyatukan robekan kertas itu, mereka mengetahui bahwa seseorang dalam satuan militernya telah menjual rahasia militer Perancis ke Jerman. Karena itu mereka melakukan investigasi besar-besaran dan dengan cepat mencurigai salah seorang Letnan Kolonel mereka yang bernama Alfred Dreyfus.

Dreyfus sebenarnya memiliki catatan militer yang sangat bermutu karena dia tidak pernah melakukan kesalahan apa pun dan tidak pernah memiliki motif untuk melakukan penghianatan. Akan tetapi, Dreyfus adalah satu-satunya pejabat dalam tentara Perancis yang memiliki darah keturunan Yahudi. Dan sangat disayangkan, kala itu para tentara Perancis memiliki prasangka ras yang tinggi terhadap kaum Yahudi.

Tim penyelidik ketentaraan kemudian menyimpulkan bahwa tulisan tangan Dreyfus sama persis dengan tulisan tangan di robekan kertas tersebut padahal ahli tulisan tangan profesional menyimpulkan bahwa kedua tulisan tangan tersebut tidak mirip sama sekali. Tim penyelidik kemudian menggeledah apartemen tempat tinggal Dreyfus dan mencari bukti-bukti bahwa Dreyfus adalah mata-mata. Akan tetapi mereka gagal menemukan bukti apa pun. Hal ini malah membuat mereka sangat yakin bahwa Dreyfus adalah penjahat yang sangat licik karena telah menjadi mata-mata dan menyembunyikan semua bukti penghianatannya.

Setelah itu, para tentara penyelidik ini mencoba menyelidiki riwayat hidup Dreyfus untuk membuat tuduhan secara terperinci. Untuk itu, mereka mewawancarai guru sekolahnya dan mereka mendapatkan informasi tambahan bahwa Dreyfus suka mempelajari bahasa-bahasa asing. Hal ini membuat tim penyelidik ketentaraan mengambil kesimpulan bahwa Dreyfus dari awal sudah memiliki keinginan yang jahat untuk bersekongkol dengan pemerintah-pemerintah asing. Dari gurunya, tim penyelidik juga mengetahui bahwa Dreyfus punya ingatan yang sangat baik dan hal ini pun menjadi bukti tambahan yang memberatkan Dreyfus karena tim penyelidik mengatakan bahwa seorang mata-mata harus dapat mengingat banyak sekali informasi.

Hasil penyelidikan tim tentara membuat Dreyfus akhirnya diperiksa di pengadilan dan dituduh bersalah. Setelah itu, para pegawai pemerintahan Perancis membawa Dreyfus ke hadapan masyarakat umum dan mereka melakukan tata cara kemiliteran yang kemudian dikenang sebagai “The Degradation of Dreyfus” (Penurunan Jabatan dari Dreyfus). Dalam peristiwa ini, lencana Dreyfus dirusak dan pedangnya dipatahkan. Setelah itu, Dreyfus dijatuhkan hukuman penjara dengan dibuang ke salah satu pulau tandus yang pantainya penuh dengan batu. Nama pulau itu adalah Devil’s Island (Pulau Setan) dan dia dikirim ke sana pada tanggal 5 Januari 1895. Dreyfus menghabiskan hari-harinya di pulau itu sendirian dengan terus menerus menulis surat pada pemerintahan Perancis agar mereka mau meninjau ulang kasusnya sehingga dia dapat dibuktikan tidak bersalah sepenuhnya (baca juga: Seorang “Pahlawan” yang Terpaksa Dihukum).

Dari kisah Dreyfus, apakah Anda berpikir bahwa Dreyfus dijebak oleh rekan-rekannya sendiri? Sejarah memperlihatkan bahwa tidak pernah ada maksud dan tujuan untuk menjebak dan menghancurkan Dreyfus. Saat itu, para tim penyelidik ketentaraan yang sangat cerdas dan teliti begitu yakin bahwa Dreyfus memang tentara yang berhianat sebagai mata-mata Jerman. Sehingga musuh Dreyfus yang sebenarnya bukanlah sesama rekan tentaranya, tetapi itu adalah berbagai informasi yang diperoleh tim penyelidik. Hal ini menimbulkan pertanyaan penting: Apa yang sebenarnya terjadi dalam pikiran manusia? Mengapa informasi sepele dan tidak berarti apa-apa malahan dapat menjadi bukti yang sangat berarti untuk menghukum manusia lainnya?


Bahaya dalam Berpikir "Logis"

Para ilmuwan dan psikolog modern menyebut kasus Dreyfus sebagai “Motivated Reasoning (Dorongan untuk Membuat Alasan)”, suatu fenomena dalam alam bawah sadar manusia yang membuatnya menjadi terdorong untuk menginginkan dan bahkan di saat yang sama menjadi ketakutan sehingga ini semua pada akhirnya mempengaruhi cara manusia memahami suatu informasi (baca hasil akhir yang dialami Dreyfus dalam: Mengapa Anda Suka Membuat Alasan untuk Membenarkan Diri?). Ini semua membuat beberapa bagian informasi mendukung pemikiran sehingga membuat manusia sangat ingin mempertahankan dan membela pemikiran yang telah diyakininya (baca juga: Bagaimana Mengendalikan Cara Anda Berpikir?)

Di lain pihak, beberapa informasi dapat terlihat seperti “musuh” yang menentang pemikiran sehingga informasi tersebut sering diabaikan dan dibuang dari pemikiran (Baca juga: Orang Terhebat pun Membuat Keputusan yang Salah). Karena itu, Galef menyebut motivated reasoning sebagai cara pandang yang teguh dengan pendirian yang kuat, dan ini sangat cocok disebut sebagai “cara berpikir para tentara yang tangguh”. Apakah cara berpikir seperti ini salah? Tidak sepenuhnya salah, karena seorang tentara dituntut untuk fokus melakukan tugas yang diperintahkannya secara berani TANPA mempertanyakan atau memikirkan ulang kebenaran perintah tersebut. Para tentara harus secara loyal untuk melakukan perintah dengan TEPAT tanpa membuat keputusan sendiri. Karena jika para tentara mengabaikan perintah dan bertindak sesuai pemikirannya sendiri, ini malahan dapat membahayakan tentara-tentara lain di dalam batalyonnya. Dan integritas terhadap perintah yang diberikan dan dilaksanakan para tentara secara patuh inilah yang membuat mereka selalu berhasil melindungi orang-orang disekitarnya, bahkan teritorialnya secara menyeluruh.

Lalu yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah apakah cara berpikir yang dipengaruhi motivated reasoning hanya dapat ditemukan dalam pemikiran para tentara tangguh? Ternyata tidak. Semua manusia DAPAT memiliki motivated reasoning dalam kehidupan sehari-hari. Mereka bisa saja melakukan kesalahan tetapi mereka tidak sadar bahwa tindakan dan pemikiran mereka salah (baca juga tentang bias informasi pada: Kenapa Orang Pintar itu Bodoh?). Pertimbangkan kedua contoh di bawah ini.

Contoh 1:
Sewaktu Anda menonton pertandingan bola dari tim favorit Anda lalu wasit menyatakan salah satu anggota tim melakukan kesalahan, Anda bisa saja dengan sangat yakin bahwa tim favorit Anda tidak salah dan wasit bertindak curang. Sebaliknya saat wasit menyatakan lawan main dari tim favorit Anda melakukan kesalahan, Anda akan sangat termotivasi untuk memperjelas kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh lawan tim favorit Anda dengan berbagai analisa yang terperinci.

Contoh 2:
Contoh lainnya lagi adalah jika Anda menyetujui hukum cambuk badan dan Anda membaca artikel yang membahas tentang hukum cambuk badan sebagai kebijakan yang kontroversi dan berbagai bukti yang ditulis dalam artikel tersebut memperlihatkan bahwa hukuman tersebut sama sekali tidak efektif. Maka Anda akan sangat termotivasi untuk menunjukkan bahwa semua bukti tersebut sangat tidak masuk akal dan tidak kuat. Sebaliknya jika Anda tidak menyetujui hukum cambuk badan, Anda akan menyebut artikel itu sangat bagus, teliti, akurat, dan masuk akal.

Hal inilah yang menyebabkan fenomena motivated reasoning selalu terlihat logis dan rasional karena membuat manusia selalu melakukan pembenaran atas pemikirannya sendiri. Dan ini mendorong manusia untuk dengan semangat membela pemikirannya secara teguh dan di saat bersamaan menyerang pemikiran yang bertentangan dengan pemikirannya sendiri. Oleh karena itu, manusia dapat secara tidak sadar terjebak dalam pemikirannya sendiri karena mereka tidak berupaya melihat kebenaran suatu informasi secara jernih dan netral.

Baca juga: Mengapa Anda Suka Membuat Alasan untuk Membenarkan Diri?

Referensi artikel: Why you think you’re right, even when you’re wrong  ( © www.ted.com)
Sumber gambar: Criminal Ball and Chain ( © www.newcyclosport.com)

Hits: 885