VdBackground 01.jpg

Belajar dari Tempat Sampah

Print
Created on Thursday, 05 January 2012 Last Updated on Wednesday, 03 July 2013 Written by V-dee


Tempat sampah? Bagaimana kita memperlakukannya?? Umumnya orang berpendapat ini adalah benda yang kotor, penuh bakteri, tidak layak ditempatkan di atas meja, apalagi kalau dijadikan tempat menyimpan makanan.

Pernahkah Anda melewati tempat pembuangan sampah? Bagaimana perasaan Anda? Beberapa mungkin mengatakan, "Yaiks...". Yang lainnya pada umumnya akan mempercepat langkah mereka untuk menghindari aroma menusuk yang keluar dari sampah-sampah itu.

Namun, pernahkah terpikir bahwa beberapa ribu orang di dunia ini yang dibuat tertawa, bahagia bahkan MENGGANTUNGKAN HIDUP mereka dari apa yang "dibuang" dan dijauhi kebanyakan orang.

Berita di ABC News online mengangkat sebuah potret kehidupan di sebuah kawasan di Kamboja, 30 km dari tempat wisata Angkor Temple. Sebuah tempat yang tidak dilihat atau diketahui oleh turis-turis yang sedang berwisata. Berlokasi di pinggiran Siem Reap, sebuah komunitas dengan sekitar 500 orang, hidup, atau bahkan bertahan hidup dari sebuah tempat pembuangan sampah.

Seorang wartawan foto bernama Omar Havana menghabiskan tujuh bulan, dari Oktober 2010 sampai April 2011 untuk mengenal orang-orang yang hidup di pembuangan sampah dan menulis tentang kehidupan mereka. Wartawan ini mengatakan bahwa ia melihat "dunia lain". Berikut ini adalah beberapa foto hasil jepretan kameranya.


Foto1: Anak-anak dan orangtua mereka mengais sampah untuk mencari makanan

500 orang bekerja di sana, kebanyakan dari mereka hidup, tidur, makan dan minum di sana. Bahkan ada wanita-wanita yang melahirkan anak-anaknya di sana.


Foto2: Seorang wanita memberi makan anaknya di tenda di atas tempat sampah

34 persen orang yang tinggal di sana hidup dengan dana di bawah $1 sehari dapat mencari makan dan pernaungan di tempat sampah itu. Mereka mendapatkan upah 35 sen sehari untuk bekerja selama 14 jam.


Foto3: Seorang bocah laki-laki mencari makanan dalam peti sampah.

Orang-orang yang tinggal di sini hidup secara nomaden. Mereka berpindah dari tempat sampah yang satu ke yang lainnya. Biasanya setiap 4 (empat) tahun sekali.


Foto4: Seorang gadis kecil yang dikeliling sampah tersenyum.

Orang-orang yang tinggal di sana adalah orang-orang yang normal dan kebanyakan anak berumur antara tiga sampai lima belas tahun. Tapi mereka selalu tertawa meski keadaan mereka seperti itu.
Aroma membusuk dari sampah menusuk masuk ke kerongkongan, bahkan seolah-olah dapat dirasakan oleh lidah. Hal ini membuat mata menjadi menangis. Namun seraya waktu berlalu, kita dapat menjadi terbiasa oleh hal-hal ini.


Foto5: Orang-orang mengais makanan sewaktu sampah "segar" datang.

Suatu hari, seorang bocah laki-laki membawa kantung berisi darah yang ia temukan di tempat sampah dan ia bertanya kepada Omar Havana, si wartawan foto, kenapa orang di tempat tinggal Havana tidak pernah tersenyum. Havana tidak tahu jawabannya dan si bocah laki-laki menjelaskan, "Saya tersenyum setiap saat, saya beruntung. Hari ini saya akan memakan temuan saya ini dan besok saya akan melihat matahari lagi."


Foto6: Seorang bocah menunjukkan temuannya.

Mereka tampaknya kebal dari sampahan. Tidak ada penyakit berbahaya yang diderita orang-orang yang tinggal di sana. Kebanyakan hanya menderita diare atau flu. Pada umumnya mereka hanya terluka atau memar pada kakinya karena kebanyakan dari mereka tidak menggunakan alas kaki sewaktu berjalan di atas berton-ton sampah.


Foto7: Dua teman yang saling berpelukan.

Pada dasarnya, tempat sampah itu menjadi "pusat perbelanjaan" bagi mereka. Semua yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup ada di pembuangan sampah. Mereka mengatakan bahwa jika mereka menemukan pisang, mereka sangat beruntung karena pisang merupakan buah yang bersih karena tertutup kulit.


Foto8: Seorang wanita mengambil air.

Sampahan ini berasal dari Siem Reap, kota turis utama di Kamboja. Di sana ada banyak hotel, termasuk juga beberapa kamar yang bertarif $1.500 per malam. Kota itu dihuni oleh 150.000 penduduk.


Foto9: Setumpuk sampah makanan.

Komunitas ini layak dikenal, mereka layak disuarakan. Mereka adalah orang-orang dengan senyum yang indah. Mereka bahagia karena besok mereka masih dapat lagi melihat matahari.


Foto10: Gadis cilik duduk diantara sampah.

Melihat kehidupan komunitas ini dan senyum di bibir mereka, terlihat bahwa tempat ini bukanlah tempat yang menyedihkan. Omar Havana mengaku bahwa ia bahagia setiap saat selama bercengkrama dengan orang-orang yang hidup di sana.


Foto11: Seorang gadis tertawa seraya mengais makanan.

Kesedihan paling besar yang diikuti tangisan air mata adalah saat Anda berada di kamar hotel yang dikelilingi oleh harta dan benda-benda yang indah dan Anda tidak dapat melihat senyum ataupun wajah orang-orang yang ada di sana tidak tersimpan dalam kenangan Anda. Itulah saat kesedihan melanda kita.


Foto12: Anak-anak dari tempat sampah.

Omar Havana menyebut Kamboja sebagai "Dunia yang Terlupakan". Dengan foto, kita tidak dapat mengubah dunia, tapi kita dapat mengubah pikiran dan menyentuh hati. Omar Havana selanjutnya mengatakan, "Itulah mengapa saya menjadi juru foto, ...untuk menyuarakan mereka yang dalam kesunyian."

Berita ini menunjukkan banyak hal, bahwa manusia bisa tersenyum dan hidup bahagia bahkan di bawah keadaan yang menurut beberapa orang adalah hal yang sangat menyedihkan.

Inti cerita:
Apakah kita sudah tidak bisa tersenyum lagi? Apakah hari2 kita diwarnai dengan kemarahan dan persaingan tidak sehat yang membuat kita tertekan? Haruskah kita membangun rumah di tempah sampah untuk belajar caranya tertawa?

Daerah Kamboja yang disebut sebagai "Dunia yang Terlupakan" dapat membuat kita belajar bahwa kadang kebahagiaan bukan dinilai dari materi atau lingkungan.

Disadur dari: Life in a Cambodian Rubbish Dump (sumber: www.abc.net.au)

Hits: 1193