VdBackground 01.jpg

Apakah Ibu Rumah Tangga Tidak Menghasilkan Apa-apa?

Print
Created on Friday, 16 August 2013 Last Updated on Friday, 16 August 2013 Written by V-dee


Banyak orang berpendapat bahwa pekerjaan sebagai ibu rumah tangga adalah pekerjaan paling menyenangkan karena bisa santai-santai di rumah, nonton sinetron dan setiap hari hanya menunggu kedatangan suaminya. Tapi, apakah memang pekerjaan sebagai ibu rumah tangga sesederhana itu? Coba renungkan keluh-kesah seorang suami yang saya temukan di salah satu artikel di internet.

Kisahnya menceritakan seorang suami yang mengeluh karena merasa luar biasa capek sebagai satu-satunya orang yang berjasa di rumahnya untuk menghidupi keluarganya. Ia ingin agar istrinya yang selama ini ada di rumah sebagai ibu rumah tangga (dibaca dari sudut pandang suami ini, “Tidak Bekerja”) membantunya mencari  nafkah agar dia tidak lagi terlalu capek bekerja.

Sebelum ia memutuskan untuk mengajak istrinya untuk bekerja mencari penghasilan tambahan, ia berkonsultasi terlebih dulu dengan seorang psikolog. Berikut ini percakapan si suami (B) dan si psikolog (P).

P : Apakah pekerjaan Bapak?
B : Saya bekerja sebagai Akuntan di sebuah Bank.

P : Lalu, pekerjaan isteri Bapak?
B : Dia tidak bekerja. Hanya ibu rumah tangga saja.

P : Oh, begitu. Sebelum bekerja, Bapak sarapan dulu atau langsung berangkat kerja?
B : Tentu saja, saya sarapan di rumah dulu.

P:  Siapa yang menyediakan sarapan Bapak setiap pagi?
B : Isteri saya, dia ‘kan tidak bekerja, jadi dia menyediakan sarapan pagi untuk saya.

P : Jam berapa isteri Bapak bangun untuk menyediakan sarapan Bapak?
B : Jam 4 pagi, karena dia harus mencuci pakaian dulu, membereskan rumah dan menyiapkan bahan untuk sarapan, baru dia mamasak sarapan untuk saya.

P : Lalu, bagaimana dengan anak-anak Bapak? Bagaimana mereka ke sekolah?
B : Isteri saya yang mengantar mereka, ‘kan dia tidak bekerja.

P : Biasanya, setelah mengantar anak-anak, apa yang selanjutnya isteri Bapak lakukan?
B : Pergi ke pasar, kemudian kembali ke rumah untuk memasak dan membereskan jemuran. Isteri saya ‘kan tidak bekerja.

P : Petang hari selepas Bapak pulang ke rumah, apa yang Bapak lakukan?
B : Beristirahat, karena seharian saya sudah capek bekerja.

P : Lalu apa yang istri Bapak lakukan?
B : Dia menyediakan makanan, mengajari anak-anak saya, menyiapkan makan malam untuk saya dan membereskan sisa-sisa makanan dan bersih-bersih lalu ia menidurkan anak-anak.

Berdasarkan percakapan antara si suami dan si psikolog, siapa yang Anda rasakan bekerja lebih banyak? Siapa yang lebih capek? Siapa yang lebih berjasa menjaga keluarga?

Inti cerita:
Rutinitas seharian seorang istri atau ibu dimulai dari sebelum pagi sampai lewat malam, apakah itu berarti ia TIDAK BEKERJA?
Ibu Rumah Tangga memang tidak memerlukan segulung ijazah, pangkat atau jabatan yang besar, tetapi peranan IBU RUMAH TANGGA sangatlah penting!

Coba perhatikan gambar di bawah ini:

Belajar dari peranan ibu rumah tangga, HARGAI-lah mereka yang memilih untuk menjadi seorang ibu rumah tangga, karena pengorbanan mereka tidak terkira. Ini merupakan renungan untuk kita semua untuk senantiasa saling memahami dan menghargai peran masing-masing. Karena dengan adanya rasa "SALING MENGHARGAI" maka semua akan bahagia.

Aza-aza FIGHTING.

Disadur dari:  motivasi215.blogspot.com

Hits: 1053