VdBackground 02  .jpg

Menjadi Dewasa sekaligus Kekanak-kanakan (Childlike)

Print
Created on Thursday, 24 July 2014 Last Updated on Saturday, 07 January 2017 Written by Phi-D


Pada umumnya, manusia dewasa banyak yang sudah meninggalkan sifat kreativitas, penyayang dan penuh kekaguman. Mereka pada umumnya menjadi pemalas, tidak penyayang  sehingga memilih-milih teman berdasarkan status dan kepentingan, berpolitik dan bersikap sinis pada mereka yang tidak sepandangan dengan mereka. Bahkan orang-orang dewasa masih suka memiliki sifat ngambekan (moody), tidak berempati (tidak dapat mengerti perasaan orang lain), pemberontak, bahkan tidak jarang memaksakan keinginannya sehingga merepotkan orang lain saat keinginannya tidak terpenuhi (childish).

Maka seperti ditulis dalam artikel Kekanak-kanakan, Childish atau Childlike? (bagian 1), hampir dapat dipastikan bahwa orang-orang dewasa masih memiliki sifat kekanak-kanakan.

Hal-hal di atas menimbulkan suatu pertanyaan, “Apakah manusia dewasa masih bisa berpikir dan bertindak secara dewasa tanpa menjadi kekanak-kanakan (childish)?

Memang saat umurnya bertambah, seseorang dituntut berperilaku, berpikir dan bertindak secara dewasa. Akan tetapi, menjadi orang dewasa terus-menerus bukanlah hal yang menyenangkan. Keseriusan orang-orang dewasa dalam menghadapi berbagai tekanan hidup terkadang membuat mereka mengalami depresi bahkan stress berat. Hal-hal itu juga dapat membuat kehidupan mereka tampak hitam-putih (alias membosankan). Jadi pertanyaan selanjutnya adalah, “Apakah manusia dewasa perlu menggunakan sifat kekanak-kanakan (childlike)?”

Childlike merupakan sifat yang sangat disukai banyak orang. Sifat kekanak-kanakan ini adalah sifat yang jujur, apa adanya, kreatif, penuh kekaguman, berprasangka baik, mudah melupakan kesedihan, selalu melihat kemungkinan untuk berbahagia dan sebagainya memang merupakan sifat yang menarik. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa sifat childish, seperti ditulis di awal artikel ini, lebih mudah muncul. Oleh karena itu, orang-orang yang benar-benar dewasa adalah mereka yang dapat menekan munculnya sifat childish dan mengembangkan sifat childlike (Untuk mengetahui perbedaan antara childlike dengan childish, baca artikel Kekanak-kanakan, Childish atau Childlike? (bagian 2)).

PENTINGNYA MENJADI DEWASA

Berdasarkan laman Wikipedia, dewasa adalah orang-orang yang matang secara fisik dan psikis. Laman ini mendefinisikan kedewasaan dari 2 (dua) segi berikut ini:
Secara hukum, orang-orang dewasa adalah orang-orang yang berumur di atas 16 tahun atau sudah menikah dan bertanggung-jawab.
Secara psikologi, dewasa merupakan periode perkembangan atau proses perubahan yang bermula pada akhir usia belasan tahun atau awal usia 20-an tahun dan berakhir pada usia 30-an tahun. Ini adalah masa pembentukan kemandirian pribadi dan ekonomi, masa perkembangan karier; dan bagi banyak orang, masa pemilihan pasangan, belajar hidup dengan seseorang secara akrab, memulai keluarga dan mengasuh anak-anak.

Akan tetapi, laman ini mengakui bahwa definisi kedewasaan sering tidak konsisten dan kontradiktif. Misalnya, seseorang sudah dianggap dewasa secara karakter, tetapi diperlakukan sebagai anak kecil karena berada di bawah umur dewasa secara hukum. Sebaliknya, orang-orang tertentu dianggap dewasa secara hukum, tetapi karakternya tidak mencerminkan sikap dewasa seperti bertanggung-jawab, berani mengakui kesalahan, berani menanggung risiko dan sebagainya.

Tingginya pendidikan, kepintaran seseorang, usia yang bertambah dari seseorang bukanlah jaminan bahwa seseorang akan selalu dapat bertindak dewasa.  Menurut Eileen Rachman dan Sylvina Savitri dari Experd di harian Kompas edisi Sabtu, 10 Mei 2008, ‘maturitas’ atau ‘kematangan’ pribadi seseorang dapat dideskripsikan dalam 5 (lima) persyaratan berikut:
1. Berpikir obyektif
2. Berpikir positif
3. Mampu mengendalikan diri dan menyalurkan emosi
4. Bertanggung jawab
5. Mampu membina hubungan interpersonal yang harmonis dan konsisten dalam waktu yang relatif panjang

Jadi berdasarkan teori-teori di atas, dapat disimpulkan bahwa menjadi dewasa adalah suatu proses, yang seringkali dipengaruhi oleh lingkungan. Dan saat kehidupan memberikan banyak masalah, karakter dewasa malahan semakin diasah menjadi lebih matang (baca juga artikel: Masalah adalah Hadiah yang Terindah). Semakin dewasa seseorang, maka orang tersebut akan lebih banyak pertimbangan dalam mengambil keputusan.

Berbeda dari definisi di atas, kebanyakan orang berpikir bahwa mereka dewasa karena umur mereka. Bahkan sewaktu ada yang meragukan kedewasaan seseorang, orang tersebut akhirnya mencoba menjadi orang lain hanya agar dapat diterima dalam lingkungan “dewasa”. Akan tetapi, menjadi seperti orang lain bukanlah arti dewasa yang sesungguhnya. Ada pepatah mengatakan “People will respect you for who you are, not for who you want to be (orang lain akan menghormati Anda karena Anda menjadi diri sendiri, bukan karena Anda ingin menjadi seperti orang lain)”. Karena itu, tetaplah menjadi diri sendiri. Pada saatnya, Anda akan menyadari, bahkan melihat, bahwa respon orang lain terhadap suatu masalah yang menekan, kritis dan beresiko seringkali menunjukkan apakah dia adalah orang yang benar-benar dewasa (dapat menyesuaikan diri dan mengendalikan diri), atau malahan kekanak-kanakan alias childish (tidak dapat mengendalikan diri).

PENTINGNYA MENJADI KEKANAK-KANAKAN (CHILDLIKE)

Menjadi kekanak-kanakan memang tampak memalukan bagi banyak orang dewasa. Akan tetapi banyak orang mengakui bahwa anak-anak kecil memiliki hati dan pikiran yang murni. Misalnya perhatikan contoh berikut ini.

Monique (usia 5 tahun) memberi tahu ibunya dengan gembira, ”Aku punya teman baru, namanya Sarah, rambutnya keriting seperti rambutku!” Monique tidak menyebutkan warna kulit dan latar belakang etnik Sarah. Dari sini terlihat bahwa anak-anak tidak membeda-bedakan orang berdasarkan ras, suku, agama dan sebagainya.

Seorang ayah menceritakan, ”Sewaktu Jack dan Levi berkelahi, kami menyuruh mereka untuk meminta maaf, dan anak-anak ini langsung bermain lagi dengan gembira. Mereka tidak mendendam, tidak suka mengungkit-ungkit, atau tidak mengajukan banyak syarat sebelum memberikan maaf. Mereka berbaikan dan langsung bermain lagi.” Dari sini dapat disimpulkan bahwa anak-anak mempunyai kemampuan yang sangat besar untuk mengampuni.

Maka sebuah kutipan dari kitab suci mengatakan:   “Jangan menjadi anak kecil dalam kesanggupan untuk mengerti, tetapi jadilah kanak-kanak dalam hal keburukan; namun jadilah orang dewasa dalam kesanggupan untuk mengerti.”

Memang tidak selalu mudah untuk menjadi manusia dewasa, tetapi juga tidak salah untuk memiliki ataupun mengembangkan sifat kekanak-kanakan (childlike). Namun pertanyaannya adalah, “Apa mungkin orang dewasa mendapatkan kembali sifat-sifat indah seperti yang dimiliki anak-anak?” Coba renungkan ilustrasi berikut.

Sekelompok ahli sedang memperbaiki sebuah mahakarya seni yang sangat bernilai. Selama proses itu, mereka menyingkirkan lapisan-lapisan debu yang sudah bertumpuk dan menghilangkan bekas-bekas perbaikan sebelumnya yang asal jadi. Upaya mereka yang gigih dan penuh kesabaran pada akhirnya membuat warna cemerlang serta keindahan asli karya seni terlihat lagi.

Maka dengan cara yang sama, kesabaran dan upaya yang gigih dapat membantu orang-orang dewasa memperoleh kembali sifat-sifat indah yang muncul secara alami ketika mereka masih anak-anak. Karakter kekanak-kanakan (childlike), dapat membuat orang-orang dewasa terus berkembang dan menjadi orang-orang yang menyenangkan, berguna, tidak mudah menyerah untuk belajar dan sebagainya (baca artikel karakter-karakter kekanak-kanakan yang menarik di Kekanak-kanakan, Childish atau Childlike? (bagian 2)). Ya, memadukan karakter kekanak-kanakan dengan cara berpikir dan bernalar secara dewasa, yang didapat dari pelajaran melalui pengalaman hidup dan karakter-karakter dewasa yang berpengendalian diri, bertanggung jawab, berprinsip dan sebagainya, dapat membuat kehidupan menjadi berwarna dan sangat menyenangkan. Oleh karena itu, BERUPAYALAH SEIMBANG, tetaplah menjadi diri sendiri dan terus nikmati hidup Anda.

Aza-aza FIGHTING.

Disadur dari berbagai sumber (Watchtower Magazine Edisi 1 Feb 2007 | www.slowdownfast.com | www.rookiemag.com | nisamufti.blogspot.com).
Sumber gambar: Einstein (www.chabad.org) 

Hits: 3504