VdBackground 02  .jpg

Selamat Jalan, Sahabat

Print
Created on Monday, 22 December 2014 Last Updated on Tuesday, 14 April 2015 Written by Phi-D


Hari ini, 18 Des 2014, saya menggunakan pakaian dan seluruh aksesories (tas, sepatu, dan sebagainya) serba putih. Hari ini adalah hari pelepasan salah seorang teman akrab saya. Dua bulan yang lalu (10 Oktober 2014), ia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya dan menekuni usahanya sendiri.

Pada umumnya orang menggunakan pakaian berwarna hitam saat memperlihatkan rasa dukacita ataupun saat mengunjungi kerabat yang berduka. Akan tetapi, hari ini, di acara pelepasan sahabat terbaik saya, pakaian berwarna putih menjadi pilihan saya.

Sebelum tahun 1800, orang menggunakan pakaian berwarna putih untuk menunjukkan perasaan sedih. Bahkan tradisi Cina pun masih menggunakan pakaian berwarna putih saat memperlihatkan rasa dukacita. Maka saat saya memilih pakaian dan aksesoris berwarna putih, saya bukannya merasa senang karena kepergian sahabat saya, tetapi karena saya merasa sedih. Tetapi seperti warna putih yang terang dan bersinar, saya memiliki harapan bahwa meski sedih, saya berharap akan ada jalan yang terang dan kesempatan yang cemerlang untuk sahabat saya di luar sana.

Dua bulan ini saya manfaatkan untuk berbicara sepuas-puasnya dengan sahabat saya. Dia pernah menanyakan kepada saya, ”Orang seperti apa saya ini di matamu?” Saya tidak menjawabnya saat itu. Hari ini, saya menjawabnya dengan ilustrasi seperti ini.

Batu Kali
Batu ini sangat banyak di kali, tidak ada yang mau mencurinya seolah-olah itu bukanlah batu berharga. Tetapi apakah batu ini berguna? Ya, untuk membuat bangunan yang kokoh, batu ini dibutuhkan untuk dijadikan fondasi. Jadi meskipun batu ini tertutup di bawah sebuah bangunan, batu ini sangat BERGUNA untuk memperkokoh struktur bangunan.

Batu Koral
Batu ini diletakkan di taman, di luar rumah dan sering diinjak-injak seolah-olah batu ini disepelekan. Akan tetapi batu ini disukai oleh pemiliknya sehingga diletakkan ditempat yang terlihat untuk membuat indah tamannya.

Lalu bagi saya, batu seperti apa sahabat saya itu? Batu yang BERGUNA seperti batu kali, atau batu koral yang DISUKAI pemiliknya?

Jujur, jika ditanya, saya sering sekali beda pendapat, beda pemikiran, beda pandangan dan yang paling sering membuat saya kesal adalah kekuatiran sahabat saya ini terhadap diri saya dalam banyak masalah yang harus saya hadapi di hidup saya, ataupun saat saya di tempat kerja. Dan saya merasa kekuatirannya terlalu berlebihan. Misalnya saja, saat saya belum genap 1 tahun bisa menyetir, saya memutuskan untuk menyetir dari luar kota, jam 2.30 pagi, melewati hutan karet yang tidak ada lampu penerangan. Sahabat saya ini mengatakan, ”Saya tidak recommend sama sekali keputusan kamu.” Setiap hari saya dengar pernyataan ini, padahal teman-teman saya hanya memberi masukkan tentang bahayanya menyetir sendirian dan bahaya menyetir keluar kota di pagi buta, juga cara mengatasi saat mobil yang dikendarai tiba-tiba bermasalah sewaktu menyetir sendirian di pagi buta.

Memang, saat menyerempet bahaya dan menantang risiko, ada saja hal yang tidak diinginkan yang terjadi. Saat jalanan gelap dan berlika-liku, saya nyaris masuk ke arah hutan, padahal jalanan ada di kanan mobil saya. Fuiih, saat itu yang teringat, selain kata-kata orang tua yang marah, saya mengingat kata-kata ”tidak recommend” dari sahabat saya ini. Awalnya saya merasa sedikit kesal, karena saya merasa bahwa pernyataan tidak rekomendasi jalan subuh dari teman saya itu, akhirnya saya jadi dapat ”masalah” ini. Tetapi belakangan saya sadar, kalau itu bukan karena ketidak-setujuan sahabat saya, tetapi memang karena saya belum berpengalaman menyetir dan jalanan di hutan karet itu memang terlalu gelap.

Dibalik hal-hal negatif yang terjadi di antara saya dan sahabat saya; di pandangan saya, sahabat saya tetap adalah artisan, seorang ahli, seorang spesialis. Mengapa? Karena sahabat saya ini ahli sekali mengajar saya banyak hal yang menarik dan bahkan ia ahli sekali ”mencuci otak” saya. Banyak orang tahu bahwa saat saya sudah membangun prinsip dan filosofi, saya tidak mudah diubah. Tetapi, demi sahabat saya, saya seringkali rela melunakkan sejenak prinsip saya yang tidak membahayakan kepribadian saya. Ya, sahabat saya ini adalah salah satu orang dalam ”karet hidup” saya yang saya ”ijinkan” untuk mengobrak-abrik kehidupan saya. BRAVOOO sahabat saya, Anda begitu LUAR BIASA di mata saya.

Jadi, batu jenis apa yang cocok menggambarkan sahabat saya ini?

Batu Berharga
Sahabat saya yang satu ini adalah orang yang saya gambarkan sebagai batu berharga. Saya menyimpan batu-batu berharga dalam lemari terkunci, di dalam kamar terkunci, karena saya ingin batu-batu ini berada di tempat yang aman sehingga dapat terus ada bersama saya selama-lamanya.

Maka saat saya mengetahui bahwa sahabat saya ingin keluar dari tempat kerja, saya pun TIDAK RELA melepaskannya. Untuk itu saya menggunakan berbagai jurus yang umumnya dipakai oleh seorang wanita saat ingin ”merayu” seorang pria. Dari rayuan untuk mempertimbangkan keputusan, permohonan, permintaan sungguh-sungguh, sampai yang terdasyat, saya mengeluarkan jurus ”maut” wanita, yaitu air mata. Akan tetapi, semua jurus-jurus itu ternyata... TIDAK MEMPAN.

Akhirnya dari sini saya sadar, saya tidak ahli dalam rayu-merayu. Selain itu, saya juga menjadi merasa begitu lega karena melihat bahwa sahabat saya sudah sangat teguh dan kokoh dengan keputusannya. Sahabat saya ini dulu pernah berkata, ”Saat kita sudah punya tujuan pasti, tidak ada masalah yang dapat menghalangi kita untuk menggapai tujuan akhir.” Maka jika "serbuan" jurus-jurus maut saya tidak dapat menggoyahkannya, saya pun memiliki keyakinan bahwa sahabat saya ini juga tidak akan mudah menyerah meski menjadi pengusaha berarti akan ada banyak rintangan dan masalah yang harus dihadapi. Karena itu, saya pun MEMAKSAKAN diri saya sendiri untuk merelakan sahabat saya sehingga ia dapat mengejar mimpinya.

Pesan Perpisahan: Kalung Batu yang Indah
Saya bukanlah seorang yang ahli dan saya pun tidak punya banyak pengalaman hidup, sehingga saya tidak bisa memberikan pesan-pesan indah. Akan tetapi saya pernah membaca kata-kata seorang Presiden Amerika ke-32, Roosevelt, ”When you get to the end of your rope, tie a knot and hang on (Saat Anda berada di ujung tali Anda, ikat sebuah simpul dan bergantungan di sana).” Ya, di saat menghadapi masalah yang sangat berat sehingga sepertinya tidak ada jalan keluar lagi, bahkan Anda tidak dapat lagi memikirikan langkah berikutnya, lakukan satu hal yang MASIH BISA dilakukan, ikatlah simpul dan tidak perlu lakukan apa pun, tetapi terus bertahan di sana sambil menunggu kondisi membaik.

Semoga dengan terus bertahan dan berjuang menghadapi berbagai masalah, sahabat saya bukan hanya dapat memiliki satu batu berharga, tetapi dapat mengumpulkan banyak batu berharga yang dapat digunakan untuk merangkai sebuah kalung batu yang indah.

Ya, kalung batu yang indah bukan batu pasif yang hanya diletakkan di taman atau disimpan di dalam rumah. Kalung batu disukai, dihargai dan bahkan dapat menghiasi pemiliknya. Saya berharap, sahabat saya dapat mengumpulkan banyak batu berharga sehingga ia dapat merangkai kalung batu yang dapat menghiasi dirinya yang luar biasa.

Aza-aza FIGHTING, mas CH6.

Penutup acara, saya menyanyikan lagu yang dipopulerkan oleh Chrisye dan digubah teksnya oleh mba Asi Manalu dan mas Doni Siregar. 1-2-3.

Resah rintik hujan,
Yang tak henti menemani.
Sunyinya kantor ini,
Sejak dirimu jauh dari diriku.

Selamat jalan, sahabat.
Kejarlah cita-cita.
Jangan kau ragu 'tuk melangkah.
Demi masa depan dan segala kemungkinan.

Jangan kau risaukan,
Air mata yang jatuh membasahiku.
Harusnya kau mengerti,
Sungguh besar ARTI-mu bagi diriku.

Selamat jalan, sahabat
Kejarlah cita-cita
Walau kini kita berpisah
Suatu hari nanti, kita ’kan bertemu lagi.
Bertemu lagi......

Ditulis untuk sahabat terbaik saya.

Judul awal: Saat Kondisi Menyedihkan menjadi Tidak Terkendali.
PS: Judul diubah karena sahabat saya mengingatkan untuk tidak memikirkan dan menjadi sedih atas keadaan yang tidak bisa saya kendalikan sepenuhnya.

Hits: 831