Mengapa Orang Baik Malah Menderita?

Print
Created on Thursday, 24 September 2020 Last Updated on Sunday, 04 October 2020 Written by Phi-D


Berbagai nasihat bijak sering dilontarkan secara turun-temurun dengan tujuan untuk membuat orang-orang mendapatkan jalan hidup yang terbaik. Salah satu nasihat yang sering diberikan adalah, “Jadilah orang yang baik agar Anda mendapatkan pahala dan berkat yang limpah serta selalu hidup berbahagia dan dilimpahi ketenangan batin.”

Itu sebabnya.....
banyak orang berupaya...
bahkan berlomba-lomba untuk dapat...
melakukan banyak hal
... yang bermanfaat
... yang berguna
... yang baik

Akan tetapi, meskipun sudah melakukan banyak kebaikan, mengikuti nasihat yang benar, menuruti sesuatu yang bermanfaat, dan menjalankan banyak hal yang luhur lainnya, kebanyakan orang malahan merasa tidak mendapatkan pahala, berkat, atau pun kebahagiaan seperti yang dijanjikan oleh nasihat turun-temurun itu.

Oleh karena itu, mereka pun melihat bahwa melakukan kebaikan demi mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan batin malahan terdengar cukup klise sehingga menjadi sia-sia untuk dilakukan.

Lalu pertanyaannya...
Kenapa hal itu bisa terjadi?
Adakah rahasia yang belum diungkapkan?
Mengapa orang yang melakukan kebaikan malah menderita?

Filosofi Kehidupan

Sebuah ilustrasi yang diekspresikan oleh Jene Hai dalam bentuk seni gambar yang cukup lucu dan unik ternyata dapat menjawab pertanyaan rumit tersebut tanpa terlalu ruwet. Jene Hai menyebut ekspresi seninya itu sebagai Filosofi Kehidupan.

Dapatkah Anda memahami ekspresi seni di bawah ini?


Paku yang bengkok,
akan ditinggalkan.

Paku yang lurus,
akan terus dipukul.

<> <> <>

Gambar ini melukiskan bagaimana filosofi kehidupan sebenarnya terjadi dalam bentuk ilustrasi paku dan palu. Di gambar itu terlihat bahwa paku yang baik, malahan akan ditempa terus-menerus karena dianggap paling bagus, kuat dan masih berguna.

Dan memang hal itulah yang sebenarnya terjadi di dalam kehidupan ini.

Mereka yang
ribet...
miring...
bengkok...
tidak jujur...
berbelat-belit...

tidak akan pernah diberikan pekerjaan dan tugas yang rumit dan membingungkan. Malahan dalam beberapa kasus, mereka dianggap sudah tidak lagi punya nilai guna untuk dimanfaatkan sehingga dibiarkan begitu saja, alias ditinggalkan.

Itu sebabnya...

Kehidupan
yang mereka jalani
malahan terlihat begitu
... santai
... tenang
... bahagia
... tenteram
... tanpa beban

Sedangkan...

Mereka yang
jujur...
lurus...
serius...
suka berpikir...
sungguh-sungguh...

seringkali mendapatkan pekerjaan yang sulit, berat dan butuh tanggung jawab besar karena mereka dianggap punya potensi besar, memiliki nilai guna yang masih dapat dimanfaatkan untuk terus-menerus menghasilkan sesuatu yang berharga.

Itu sebabnya...

Kehidupan  mereka
seolah ditempa terus-menerus
dengan beragam  beban  berat  
yang terkadang menguras energi
... secara fisik.
... secara emosi.
... secara mental.

[Baca juga alasan kenapa masalah ada dalam kehidupan di: Ketika Masalah Datang]

Ini sebenarnya mirip dengan filosofi pare pahit.
Sabar itu pahit...
Ikhlas itu pahit...
Jujur itu pahit...

Tapi ingatlah...
Pare yang pahit
menyembuhkan segala penyakit.

[Baca juga momen berharga di masa sulit pada: Kekuatan di Titik Terendah]

Maka...
Kepahitan, penderitaan, masalah dalam kehidupan dapat juga menghasilkan banyak manfaat besar. Ini disebabkan karena semua kejadian yang memedihkan hati tersebut malahan dapat membuat seseorang...
... bangun karakter baik
... belajar hal baru
... introspeksi diri

[Baca juga bahwa penderitaan itu berharga di: Kegagalan adalah "Embrio" Keberhasilan]


Jadi...
Di kehidupan Anda,
mana yang Anda pilih untuk jalani?
menjadi paku yang bengkok?
atau paku yang lurus?


#AndaBebasBerpikir
#AndaBebasMemilih

Aza-aza FIGHTING.

Artikel ini ditulis sebagai salah satu materi ajar dalam el-Science, Sistem Pendidikan Modern (www.eldadido.com)
Ilustrasi gambar: Philosophy of Life (© Jene Hai Art Expression)

Hits: 1296