VdBackground 02  .jpg

Menyenangkan Semua Orang itu Tidak Menyenangkan

Print
Created on Thursday, 25 September 2014 Last Updated on Thursday, 25 September 2014 Written by Phi-D


Sewaktu memiliki teman, Anda pastinya ingin agar teman Anda merasa nyaman dan sedapat mungkin Anda ingin menyenangkan dia. Demikian juga di tempat pekerjaan, Anda pastinya ingin menyenangkan atasan Anda sehingga memudahkan Anda untuk mendapatkan promosi kerja yang baik. Sewaktu tinggal di lingkungan tertentu, Anda juga pastinya ingin menyenangkan orang-orang di lingkungan tempat tinggal Anda sehingga dapat menjaga kerukunan dengan tetangga-tetangga Anda. Berdasarkan penalaran ini, banyak orang kemudian berpikir pentingnya menjadi seorang yang dapat terus-menerus menyenangkan orang-orang lain, alias pleaser. Akan tetapi apakah dengan menjadi seorang yang selalu menyenangkan orang lain dapat benar-benar membuat orang tersebut terlihat sangat menyenangkan? 

Apa itu Selalu Menyenangkan Orang Lain?

Pernahkan Anda tergoda untuk mengabaikan jadwal di agenda Anda demi kepentingan orang lain? Apakah Anda berupaya bekerja sama dengan orang lain atau mengingkari sesuatu hanya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan? Atau, Anda bisa jadi terpaksa harus diam karena melihat ada situasi yang tegang dalam pembicaraan Anda? Jika Anda pernah melakukan hal-hal yang baru disebutkan atau malahan sering melakukan hal ini, maka ini berarti Anda cenderung menyenangkan orang lain. Dengan selalu memilih bersikap seperti ini, Anda berpikir bahwa Anda telah menyenangkan orang lain, akan tetapi kenyataannya, sikap demikian tidak akan membuat Anda benar-benar menyenangkan orang lain.

Untuk mempelajari tentang kecenderungan untuk menyenangkan orang lain, Selena Rezvani (pembicara dan konsultan pekerjaan dan salah seorang penulis artikel di laman Forbes Woman), mewawancarai Cheryl Rice, seorang pelatih eksekutif dan penulis buku Where Have I Been All My Life (Dimana saja aku selama ini?), yang akan diterbitkan pada tanggal 7 Oktober 2014. Buku yang diinspirasi dan dicerahkan oleh Rice ini, menggali perjalanan hidupnya yang menantang kecenderungan dalam dirinya sendiri untuk selalu menyenangkan orang lain seumur hidupnya. Rice juga menghimbau klien-klien wanita yang berperan sebagai pelatih untuk melakukan hal yang serupa. Rice mengatakan, “Orang yang menyenangkan orang lain selalu berupaya untuk mendapatkan pengesahan dan dukungan dari orang lain; sementara mereka sendiri tidak pernah memberikan dukungan ataupun pengesahan kepada diri mereka sendiri.

Ya, menjadi seorang yang berupaya menyenangkan segala macam orang itu tidak menyenangkan. Terkadang hal yang terbaik adalah mengatakan TIDAK (Lihat juga artikel yang menunjukkan bahwa mengatakan tidak pada anak dapat menjadikannya seorang yang dewasa dan dapat mengendalikan diri di artikel Kekanak-kanakan, Childish atau Childlike? (bagian 2)).

Menyenangkan Orang Lain itu Menghancurkan Anda

Rice menggaris-bawahi 5 (lima) hal bahwa dengan menjadi orang yang selalu berupaya menyenangkan orang lain, orang tersebut malahan tidak dapat mengerjakan pekerjaannya dengan baik dan tidak dapat menjalankan kehidupannya secara bermutu. Berikut ini adalah beberapa hal yang dikembangkan dan dialami  oleh orang-orang yang selalu berupaya menyenangkan orang lain.

1. Anda akan menjadi orang yang tidak jujur
Sewaktu Anda berupaya menyenangkan orang-orang lain, Anda pastilah penipu. Misalnya Anda membohongi orang lain sewaktu menganggukkan kepala padahal Anda tidak setuju. Anda menyesatkan orang lain sewaktu Anda duduk diam padahal Anda melihat ada sewaktu yang salah yang harus segera dibicarakan dan diselesaikan. Anda bahkan menyetujui hal yang sebenarnya membuat Anda begitu marah.

2. Anda akan terpojok
Orang yang menyenangkan orang lain seringkali menyetujui permintaan dan bahkan terlalu memberikan diri mereka untuk orang lain. Sewaktu Anda mengijinkan orang lain untuk “menyetir” Anda terhadap permintaan dan negosiasi orang lain, Anda malahan tidak memberikan diri Anda keuntungan terpenting dalam membuat keputusan. Ya, Anda tidak punya waktu dan ruang untuk mempertimbangkan permintaan orang lain. Rice mengatakan, “Sewaktu Anda terlalu membiasakan diri untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan orang lain, Anda menjadikan diri Anda sasaran yang sangat mudah diserang dan dikritik. Dan dari 10 serangan yang dilancarkan kepada Anda, Anda harus kehilangan dan mengabaikan kebutuhan Anda sebanyak 9 kali.”

3. Orang-orang berharap Anda akan bertindak dengan cara yang sama di masa depan
Reputasi Anda dibangun dengan pola tingkah laku yang berulang-ulang. Jika Anda mudah “dipaksa” untuk menyenangkan orang lain, apalagi Anda telah melakukan lebih dari satu kali, Anda membuat orang lain yakin dan berharap bahwa Anda akan menuruti keinginan mereka di masa depan kelak. Hal ini tidak akan menegaskan potensi kepemimpinan Anda di masa depan, tetapi ini malahan menguatkan fakta bahwa Anda adalah pengikut yang baik (follower). Rice bahkan menjelaskan, “Pertanyaan yang Anda ajukan kepada diri sendiri (sebagai bahan instrospeksi diri) yang didasarkan untuk menyenangkan orang lain biasanya membuat Anda menjadi lebih pasif. Yang lebih parahnya, ini membuat orang lain melihat Anda sebagai orang yang bimbang, plin-plan dan tidak tegas.”

4. Pengorbanan Anda membuat Anda merasa seperti “korban”
Sewaktu Anda hidup hanya untuk menyenangkan orang-orang lain, Anda akan berakhir seperti orang-orang yang tidak punya harapan, Anda akan berada dalam kondisi yang lemah. Sebagai ilustrasi, pertimbangkan situasi ini. Anda adalah seorang penyelenggara pesta (event organizer), Anda telah berupaya semaksimal mungkin untuk menyesuaikan diri dengan pesta yang terlalu menuntut dan membuat orang-orang dalam pesta senang dan puas. Akan tetapi, orang-orang tersebut ternyata masih tidak puas dan senang. Sebagai penyelenggara pesta yang ingin selalu menyenangkan orang lain, pada akhirnya Anda harus menurunkan biaya pesta tersebut, kemudian memberikan layanan lebih, lalu Anda bahkan bekerja lebih lama. Akan tetapi orang-orang tersebut masih meminta Anda melakukan yang lebih banyak dari itu. Ya, pengorbanan besar yang Anda buat untuk menyenangkan orang-orang di pesta tersebut malahan membuat Anda menjadi “korban”.

Oleh karena itu, Rice menyarankan, “Anda dapat menjadi seseorang yang menyenangkan tanpa harus menyenangkan orang lain. Perbedaan besar yang sedang dibicarakan di sini adalah membuat pilihan untuk menjadi orang yang menyenangkan, tetapi tegas, sebaliknya daripada mudah menyenangkan atau memanjakan orang lain secara berlebihan.”

5. Anda “mencairkan” pengetahuan dan kontribusi Anda
Jika Anda tidak tegas terhadap pendapat pribadi Anda, ataupun Anda tidak benar-benar menantang orang lain, Anda akan mengajarkan orang lain untuk berpikir bahwa pelatihan yang Anda terima, kecakapan Anda dan keahlian Anda tidak ada gunanya. Oleh karena itu pada saat rapat, berupayalah untuk “melawan” keinginan menjadi seperti anak sekolah atau pengamat yang selalu setuju pada apa yang sedang dibicarakan dan diputuskan. Rice mengatakan, “Sewaktu Anda menjadi seorang yang berupaya menyenangkan orang lain, Anda tidak melakukan tugas dan pekerjaan Anda. Saya jamin bahwa pada titik tertentu dalam hidup Anda, Anda malahan akan menjadi orang yang BENAR-BENAR TIDAK MENYENANGKAN, Anda kehilangan respek dari orang-orang lain, dan Anda akan dianggap sebagai orang yang mudah diombang-ambingkan oleh arus.”

Berdasarkan bahasan dari artikel di atas, berupayalah membuang kecenderungan untuk selalu menyenangkan orang lain. Anda tidak perlu menjilat atasan-atasan Anda untuk menyenangkan mereka. Anda tidak perlu terus-menerus mengikuti keinginan teman-teman Anda untuk menyenangkan mereka (Baca artikel bahwa teman Anda tidak membutuhkan teman yang menyenangkan tetapi yang setia di Bersahabat dengan ‘Alien’). Ya, jadilah diri Anda sendiri dan tetaplah tegas juga kreatif.

Aza-aza FIGHTING.

Baca juga artikel: Alasan untuk Tidak Selalu Menyenangkan Orang Lain.

Disadur dari: Forbes Woman
Sumber gambar: I'm Not a Doormat (julieblair.com)

Hits: 1318