VdBackground 01.jpg

Mengapa Inovator Membenci Lulusan Sekolah Bisnis?

Print
Created on Thursday, 12 February 2015 Last Updated on Wednesday, 23 December 2015 Written by Phi-D


Para lulusan sekolah bisnis berpandangan bahwa pelatihan manajemen memiliki nilai yang unggul, sebaliknya para pemimpin dari perusahaan-perusahaan yang inovatif malahan sering memberikan kritik-kritik yang kasar pada para lulusan sekolah bisnis. Hal ini menimbulkan berbagai pertanyaan, apakah memang Anda harus mendapatkan gelar M.B.A dari sebuah sekolah bisnis untuk menghasilkan suatu inovasi?

Peter Thiel, Scott Cook dan Elon Musk mengatakan bahwa para lulusan sekolah bisnis malah menyulitkan dan bukannya membantu inovasi. Perhatikan dakwaan-dakwaan keras yang mereka katakan tentang para lulusan sekolah bisnis berikut ini.

”Jangan pernah menggaji lulusan M.B.A., mereka akan menghancurkan perusahaan Anda.” - Peter Thiel

”Sewaktu seorang lulusan M.B.A. mendatangi kita, kita harus melatih ulang mereka hal-hal dasar; apa yang yang telah mereka pelajari tidak akan menghasilkan inovasi.” - Scott Cook, pendiri dan pemimpin Intuit.

”Sebisa mungkin, jangan mempekerjakan lulusan M.B.A. Program pendidikan M.B.A. tidak mengajarkan cara menciptakan perusahaan... posisi kita adalah untuk menggaji orang yang tidak suka dengan lulusan M.B.A., karena orang itu bukanlah lulusan sekolah bisnis.” - Elon Musk, pendiri Tesla, SpaceX, Solar City dan PayPal

Benarkah para M.B.A. malah merusak inovasi dan meruntuhkan perusahaan? Apakah pernyataan Peter Thiel, Scott Cook dan Elon Musk dapat dibuktikan kebenarannya?

Memang kesalahan ini bukan ada di ORANG yang belajar di sekolah bisnis tetapi pada TUJUAN manajemen. Sekolah bisnis mengajarkan prinsip-prinsip manajemen yang terus dikembangkan dalam revolusi industri untuk memecahkan masalah manajemen perusahaan besar, bukan pada masalah inovasi. Seraya revolusi industri mengubah pandangan ekonomi, mengganti satu ruang kerja menjadi perusahaan besar, ”raksasa besar baru” akan menciptakan permintaan untuk kebutuhan manajemen sehingga ”kereta dapat berjalan tepat waktu”.

Sekolah bisnis benar-benar berfokus untuk melatih para manajer cara berkoordinasi dan mengendalikan industri titan yang sedang berkembang. Pelatihan-pelatihan manajemen yang sudah umum digunakan dapat bekerja baik untuk beberapa masalah relatif yang umum, seperti cara untuk mengoptimasi aktivitas dan pelaksanaan koordinasi. Akan tetapi bukti yang berkembang menyatakan bahwa teknik-teknik ini bekerja kurang baik untuk memanajemen ketidakpastian, yaitu saat membuat ide baru ke pasar. Dengan kata lain, sekolah bisnis hanya berfokus tentang cara untuk MENANGKAP nilai dari pelanggan, bukan cara MENCIPTAKAN nilai.

Cara lain untuk memikirkannya adalah dengan melihat kurva S tradisional yang menggambarkan hidup suatu produk atau perusahaan.

 

Keterangan gambar:
Sewaktu suatu perusahaan mulai dibangun, yaitu pada saat fase pembuatan startup, ketidakpastian sangat tinggi dan para wirausaha dipaksa untuk menggunakan banyak cara untuk MENCIPTAKAN nilai. Tugas-tugas utamanya termasuk berupaya mencari dan menemukan pelanggan. Tetapi saat pertama kali ketidak-pastian mulai berhasil diatasi, tugas-tugas utama berubah untuk mengeksekusi dan mengoptimasi untuk MENANGKAP nilai. Pada saat perubahan inilah, pendiri/penemu produk biasanya "ditendang" keluar dari perusahaan dan para lulusan sekolah bisnis mulai mengambil kekuasaan untuk memperbesar perusahaan.

Saat membicarakan tentang kondisi ketidakpastian yang tinggi, yang dibutuhkan adalah pendekatan dari sekolah inovasi, bukan pendekatan sekolah bisnis. Sekolah inovasi memiliki pengetahuan untuk mengelola ketidak-pastian. Data berikut ini memperlihatkan perbedaan pemikiran antara sekolah bisnis (manajemen tradisional) dan sekolah inovasi (manajemen wirausaha):

1. Fokus Utama
Sekolah bisnis: Dilaksanakan dalam situasi perusahaan yang sudah pasti.
Sekolah inovasi: Bereksperimen dalam keadaan yang tidak pasti.

2. Strategi
Sekolah bisnis: Melindungi sumber-sumber daya yang sudah ada, meningkatkan sumber-sumber daya yang sudah ada, menopang keuntungan yang kompetitif.
Sekolah inovasi: Belum ada sumber daya, menemukan dan membangun sumber-sumber daya yang baru, mengabaikan keuntungan-keuntungan untuk sementara waktu.

3. Perilaku Organisasi
Sekolah bisnis: Mempekerjakan ahli dalam bidang tertentu (Orang dengan tipe I), mempekerjakan orang untuk melakukan tugas-tugas divisi, struktur organisasi: hirarki.

(baca artikel: Apa itu Orang dengan Tipe I dan T?)

Sekolah inovasi: Mempekerjakan orang yang mengerti banyak hal (Orang dengan tipe T), mempekerjakan orang yang dapat untuk melakukan banyak fungsi, struktur organisasi: flat.

(baca artikel: Struktur Organisasi Hirarki atau Flat, Mana yang Paling Bagus dalam Bisnis?)

4. Kepemimpinan dan Tim
Sekolah bisnis: struktur tim vertikal, struktur pengawasan oleh manager, maksimal dan optimal.
Sekolah inovasi: struktur tim horisontal, struktur kelompok dengan level yang sama, minimal dan mencukupi.

(baca artikel: Apakah Anda Menciptakan Struktur Tim Horizontal atau Vertikal?)

5. Operasi
Sekolah bisnis: Rutin yang efesien untuk pelaksanaan, siklus yang panjang, menghindari kesalahan.
Sekolah inovasi: Rutin yang fleksibel untuk pencarian, siklus pendek yang radikal (sporadis), menerima kesalahan.

6. Pemasaran
Sekolah bisnis: Memiliki banyak fitur dan produk yang menarik, segmen pasar yang kuantitatif, membangun dan melindungi merek (brand).
Sekolah inovasi: Memiliki fitur produk yang sedikit, interaksi pelanggan lebih kualitatif, mengabaikan merek (brand) untuk sementara waktu.

7. Finansial dan Akuntansi
Sekolah bisnis: Menekan biaya (marginal cost logic), membuat anggaran biaya (fixed cost) untuk menekan biaya rata-rata.
Sekolah inovasi: Biaya penuh (marginal cost logic), tidak membuat anggaran biaya sehingga dapat bergerak fleksibel.

(baca juga artikel: Perbedaan Mendasar Sekolah Inovasi dan Sekolah Bisnis)

Disadur dari: Why Innovators Hate M.B.A.’s (© www.inc.com)

 

Hits: 803