VdBackground 01.jpg

Mengapa Harus Merekrut Seorang Atlet dalam Bisnis Anda?

Print
Created on Thursday, 19 November 2015 Last Updated on Tuesday, 01 December 2015 Written by Phi-D


Sebuah penelitian memperlihatkan bahwa atlet olahraga yang mengubah profesinya menjadi pembisnis, akan lebih sukses dari pembisnis yang tidak pernah menjadi seorang atlet, atau mengembangkan karakter seorang atlet. Ada apa sebenarnya dengan karakter atlet? Mengapa karakter itu berharga untuk mengembangkan sebuah bisnis?

Seorang atlet, atau mantan atlet, pada umumnya memiliki keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan dalam membangun dan mengembangkan sebuah bisnis dengan sukses seperti kepemimpinan, semangat yang tinggi, dan sikap sportif. Keterampilan-keterampilan ini memungkinkan mereka selalu sanggup tertawa dan menikmati keberhasilan, bahkan kegagalan yang mereka alami (Baca artikel: Apa itu Kecerdasan Kegagalan?). Ini semua merupakan fondasi yang kuat untuk membantu mengembangkan bisnis yang sedang mereka geluti.

Memang tidak semua atlet ternama dapat bertahan dalam dunia pekerjaan. Sebagai contoh, Michael Jordan dan ratusan dari ribuan atlet olahraga, gagal mengubah posisinya dari atlet menjadi pekerja kantoran. Akan tetapi, mereka yang berhasil melakukannya, memiliki keterampilan dan kepribadian yang sangat berharga untuk bergabung di tingkat kepemimpinan dan mengembangkan bisnis sebuah perusahaan.

Sebuah pembelajaran dan riset yang dilakukan oleh INSEAD, sebuah laman edukasi bisnis, mempelajari atlet-atlet dari berbagai olahraga dan kebangsaan yang berhasil memperoleh pekerjaan dalam dunia bisnis. Riset ini mengidentifikasi bahwa para mantan atlet memiliki keterampilan dan kepribadian luar biasa yang dapat disumbangkan ke karir barunya. Berikut ini adalah beberapa kelebihan yang dimiliki seorang atlet, atau mantan atlet.

Fokus, Jaringan, dan Gerakan ”Penyerangan”

Eric Brodnax, seorang atlet olimpiade penunggang kuda dari kepulauan Virgin, Amerika, menetapkan suatu tujuan setelah lulus dari sekolah. Ia membuat target yang tinggi, menetapkan perencanaan waktu, dan dengan kokoh berfokus pada targetnnya. Kegigihannya membuahkan hasil yang hebat sehingga ia mendapat hak istimewa untuk bergabung dan memperkuat tim Pan-American Games pada tahun 1987. Setelah itu di tahun 1988, ia mendapat kesempatan untuk mengikuti Olimpiade.

Di Olimpiade, Brodnax ternyata hanya berhasil mengukir prestasi sebagai juara ke-35. Fakta ini membuatnya sadar bahwa ia tidak dapat mencapai prestasi yang ia harapkan sehingga dia mengatakan bahwa dia memang hebat, tapi tidak luar biasa hebat. Oleh karena itu, ia pun segera bertindak dan mengubah targetnya dengan meninggalkan karir olahraganya.

Brodnax sadar bahwa saat memulai karirnya sebagai atlet, dia selalu berjuang sendirian, tetapi setelah menjadi atlet olimpiade, ia menemukan banyak hal berbeda yang menguntungkannya. Latar belakangnya sebagai atlet olimpiade memberinya kesempatan untuk menciptakan dan menggunakan jaringan sepenuhnya. Ini juga memberinya keterampilan berkompetisi, yaitu mencari peluang dan MENGEJAR-nya, suatu modal dasar yang PASTI dimiliki setiap atlet olahraga.

Brodnax pun mengambil sekolah bisnis di Wharton. Dan sambil bersekolah, ia mengambil pekerjaan musim panas untuk strategi privatisasi di negara Czechoslovakia, dimana daftar kliennya termasuk industri anggur Slovak. Pengalamannya ini kemudian membuatnya berpikir untuk membangun bisnis sendiri, yaitu mengimpor anggur dari Afrika Selatan saat Amerika sedang memberikan dukungan ekonomi pada negara tersebut.

Brodnax mengakui bahwa ia suka dengan kemungkinan untuk ”memperjuangkan medan untuk menang” dan dengan tegas mengatakan, ”Walaupun saya tidak selalu mencari tantangan-tantangan baru dan berbeda, saya akan selalu semangat mengejar hasil akhir yang logis dimanapun saya bekerja.”

Keterampilan Menyesuaikan Diri, Semangat, dan Daya Tahan

Andrew Noble dari tim ski Inggris mendapat ujian ketahanan mental dan ketabahan pertamanya pada usia 15 tahun saat ia mengalami cidera patah tulang belakang. Periode penyembuhannya sangat lama sehingga membuat Andrew mengalami kesulitan, padahal saat itu ia sedang berada di jenjang tertinggi turnamen. Akan tetapi waktu penyembuhan yang lama inilah yang memberinya kesempatan untuk merenung; sehingga saat ia kembali ke pertandingan ski, ia pun dapat menaklukkan tingkat pertandingan yang lebih tinggi lagi.

Tidak lama setelah ia diberi kesempatan untuk mulai menanjakkan peringkat menjadi atlet ski profesional, ia mulai mendapatkan uang dari sponsor dan dana-dana dari perusahaan-perusahaan yang diberikan pada tim Inggrisnya, tempat ia bergabung. Pada persiapan untuk Olimpiade 2010, kualitas Andrew sebagai pemain tim dan pemimpin tim secara alami muncul tanpa ia sadari. Empat minggu sebelum upacara pembukaan, terdapat pemberitahuan bahwa Federasi Ski Inggris bangkrut dan tidak akan lagi memberikan dukungan, baik secara finansial atau pun logistik.

Andrew secara alami segera bertindak. Ia menghubungi sponsor dan penyedia logistik seraya berharap ia dapat sedikit menyelamatkan situasi. Ini memang menghabiskan seluruh sumber daya yang ia miliki, termasuk kekuatan yang besar untuk bertahan menghadapi tekanan yang hebat. Kejernihan pikirannya dalam bertindak ternyata sangat bermanfaat untuknya di saat itu, bahkan untuk karirnya di masa depan, di konsultan strategi terkenal yang sangat kompetitif, McKinsey.

Keuntungan lainnya yang Andrew rasakan telah ia dapatkan dari pengalamannya di dunia olahraga adalah kesanggupannya untuk menciptakan dan membangun hubungan yang sangat berarti. Andrew yakin bahwa ia memiliki lebih banyak pengalaman dan lebih efektif dari rekan-rekan kerjanya karena ia sangat mudah membangun hubungan dengan klien-kliennya.

Mengatasi Tantangan

Perubahan untuk keluar dari dunia olahraga ke dunia bisnis tidak selalu mudah. Akan tetapi dengan sedikit bantuan dari industri olahraga, perusahaan perlu waspada pada masalah-masalah potensial dan mempersiapkan diri untuk membantu karyawan yang merupakan mantan atlet sehingga dapat mencapai potensi mereka sepenuhnya.

Saat John Garret kuliah di Universitas Cambridge, ia adalah seorang juara nasional dayung di tingkat pelajar, dan telah mengikuti pertandingan-pertandingan di seluruh Eropa. Di tahun kedua kuliahnya di Cambridge, ia bergabung dengan tim Inggris. Kemajuannya begitu cepat dan ia mengatakan bahwa momentum inilah yang membantunya MENYAMBAR setiap peluang baru.

John mengambil berbagai kombinasi pekerjaan. Pertama, ia bekerja di sebuah bank kota, setelah itu di pelayanan sipil, dan di saat yang bersamaan, ia memberikan pelatihan untuk regu nasional. Saat ada penambahan dukungan dana untuk tim, ia memprioritaskan olahraga dayungnya. Saat mengambil S2 di London School of Economics, ia mengombinasikan keterampilannya di dunia olahraga dengan pembelajarannya sebagai calon Sarjana Ekonomi. Gelar Ekonomi yang akhirnya diraihnya membuat John tertarik pada masalah-masalah pengembangan internasional, terutama hutang internasional. Itu adalah langkah alami untuk mengubah haluan setelah ”sukses kecil” di Olimpiade ketiga. John mengubah profesinya dari atlet dayung ke ”pekerjaan yang lebih serius”.

John tidak kesulitan untuk mengubah-ubah perannya, di bisnis kecil, lokal, pemerintahan pusat, bahkan di pengembangan internasional, meskipun perubahan ini memang berat, baik secara emosional ataupun psikologi. Jika sebelumnya saat menjadi atlet olahraga ia menikmati dan sanggup berpindah-pindah dari kota ke kota untuk mengikuti kompetisi di acara-acara olahraga, maka seperti atlit-atlit lainnya, John pun tidak pernah kesulitan untuk menjalin hubungan di dunia barunya, dengan identitas dan profesi barunya.

Mengekang Kepribadian untuk Bersaing

Kavitha Krishnamurthy telah empat kali menjuarai pertandingan tenis junior Kanada sebelum ia menjadi ”profesional”. Setelah lulus dari sekolah bisnis INSEAD, ia bekerja untuk perusahaan Coca-Cola, dimana kedisplinan, ketenangan, dan keterampilan menyesuaikan diri ke dunia internasional telah dikembangkannya selama tahun-tahun saat dia berkecimpung di dunia tenis, dan ini sangatlah bermanfaat untuknya. Kekurangan paling besar yang dimilikinya karena profesi atlet yang ditekuni sebelumnya adalah sulit baginya untuk mengurangi sifat kompetisi dan persaingan yang dibangunnya secara alami saat menjadi seorang atlet. Ya, tantangan untuk membangun lingkungan tim kerja yang kondusif dan produktif untuk meraih kesuksesan tidak sesuai dengan karakter seorang atlet yang selalu berkompetisi untuk dapat meraih kemenangan setiap kali bertanding.

Keuntungan untuk Berbagi Keterampilan dan Sinergi

Seperti yang telah didiskusikan dengan atlet-atlet di dunia bisnis, terdapat pola yang jelas dari cerita mereka. Banyak contoh bagaimana sifat alami dan keterampilan yang didapat dari dunia olahraga memberikan dukungan untuk menciptakan seorang pemimpin yang luar biasa. Ya, jelas sekali bahwa ada banyak kompetensi yang dapat diberikan, dan yang telah dikembangkan oleh atlet-atlet dibandingkan rekan-rekan kerja mereka yang tidak pernah menjadi seorang atlet. Jika peluang ini digunakan dengan baik oleh perusahaan tempat para mantan atlet ini bergabung, mereka berpotensi untuk berkembang dengan cepat dan menjadi aset yang sangat luar biasa.

Sebagai kesimpulan, berikut ini adalah keterampilan yang dikembangkan dan dapat diberikan seorang atlet atau mantan atlet ke perusahaan:
1. Kecepatan, energi, dan dinamis.
2. Motivasi diri, kinerja otonomi yang dapat diandalkan.
3. Fokus, disiplin, dan dedikasi.
4. Semangat dan kebulatan tekad.
5. Fleksibel dan mudah menyesuaikan diri.
6. Ketahanan yang tinggi pada tekanan dan ketabahan.
7. Perencanaan strategis.
8. Semangat untuk merintis, keterampilan untuk melihat peluang.
9. Kerja tim dan kerja sama.
10.Membangun hubungan dan jaringan.

Disadur dari:  Why Your Next Hire Should Be an Athlete (© knowledge.insead.edu)
Sumber gambar: The Feminine Athlete ( © www.huffingtonpost.com)

Hits: 813