VdBackground 01.jpg

Membentuk Anak-anak memiliki Karakter Seorang Pemimpin

Print
Created on Monday, 07 September 2015 Last Updated on Tuesday, 25 July 2017 Written by Phi-D


Semua orang tua sangat menginginkan anak-anak mereka kelak menjadi pemimpin-pemimpin yang diandalkan, entah itu di kantor pemerintahan, kantor perusahaan swasta, kantor perusahaan asing atau pun kantor yang dibangunnya sendiri. Para orang tua ingin anak-anak mereka bertumbuh menjadi anak yang berani, bersemangat, bergairah, dan unik. Orang tua juga ingin tindakan anak-anak mereka dapat menginspirasi orang-orang lain, dan bahkan lebih baik dari yang dapat mereka bayangkan.

Meskipun peran guru, pembimbing, dan mentor juga dapat memengaruhi kepribadian seorang anak, namun jalur anak-anak ke arah kepemimpinan sebenarnya ada di tangan para orang tua. Orang tua dapat memberikan teladan dan mengajarkan keterampilan-keterampilan yang dapat membuat anak-anak mereka membimbing diri sendiri dan orang-orang lain dalam dunia yang sangat kompetitif, atau orang tua dapat membiarkan anak-anak mereka jatuh sebagai korban dari cara berpikir yang membuat mereka diperbudak oleh kondisi yang tidak pernah berubah (status quo) [Baca juga untuk melihat bahwa orang tua yang berkarakter kuat menghasilkan anak-anak berkarakter kuat di artikel: Karakter WAJIB untuk Sukses].

Ya, berdasarkan deskripsi di atas terlihat bahwa menjadi orang tua adalah tanggung jawab yang luar biasa besar. Itulah keindahan membangun anak-anak menjadi pemimpin, yaitu melakukan BANYAK hal kecil yang dilakukan SETIAP hari. Hal-hal kecil inilah yang membentuk anak-anak menjadi orang-orang macam apa mereka kelak. Karena itu, untuk membangun jiwa kepemimpinan dalam diri maupun anak-anak, berfokuslah pada aksi-aksi di bawah ini.

Tunjukkan Kecerdasan Emosional

Kecerdasan emosional adalah ”sesuatu” yang sedikit tidak jelas; ini akan mempengaruhi cara mengelola tingkah laku, mengendalikan kompleksitas sosial, dan membuat pilihan-pilihan pribadi untuk meraih hasil-hasil yang positif (baca artikel tentang apa itu kecerdasan emosi di artikel: Siapa Saya Sebenarnya?).

Anak-anak akan belajar kecerdasan emosional dari orang tua mereka dengan cara yang mudah dan sederhana. Seraya anak-anak melihat orang tua mereka setiap hari, mereka akan menyerap tingkah laku orang tuanya dengan cepat. Anak-anak akan terbiasa pada kesadaran emosi orang tua mereka, perilaku yang dicontohkan orang-tuanya terhadap emosi, dan cara orang tua mereka bereaksi terhadap emosi yang anak-anaknya perlihatkan.

Kecerdasan emosi adalah salah satu pendorong terbesar untuk sukses meraih posisi kepemimpinan. Sebuah survei yang dilakukan oleh laman TalentSmart telah menguji lebih dari 1 juta orang dan menemukan bahwa kecerdasan emosi bertanggung-jawab terhadap 58% kinerja dalam pekerjaan seorang pemimpin. Dengan cara yang sama, 90% pemimpin dengan kinerja yang luar biasa hebat memiliki nilai kecerdasan emosi yang sangat tinggi.

Kebanyakan orang melakukan sedikit upaya untuk meningkatkan kecerdasan emosi. Hanya 36% orang yang diuji yang dapat mengidentifikasi dengan akurat emosi yang mereka rasakan. Anak-anak yang memiliki tingkat kecerdasan emosi yang tinggi membawa keterampilan ini sampai masa tuanya, dan ini membantu mereka dalam kepemimpinan dan kehidupan.

Jangan Terobsesi dengan Pencapaian

Kebanyakan orang tua terjebak pada obsesi untuk mencapai sesuatu karena mereka yakin bahwa inilah yang akan membuat anak-anak mereka selalu dapat mencapai sesuatu. Sebaliknya, saat orang tua memandang pada pencapaian, ini akan memberikan masalah untuk anak-anak. Saat diterapkan pada kepemimpinan, berfokus pada pencapaian individual akan membuat anak-anak melakukan kesalahan saat menyelesaikan pekerjaan mereka.

Sederhananya, pemimpin-pemimpin yang baik selalu mengelilingi diri mereka dengan orang-orang hebat karena mereka tahu bahwa mereka tidak dapat melakukan setiap pekerjaan sendirian (Baca artikel: Bermain Catur, Dam dan Karakter Kepemimpinan). Anak-anak yang terobsesi dengan pencapaian berfokus pada hadiah dan hasil yang mereka sendiri tidak mengerti. Yang dapat mereka lihat adalah pemain yang memegang piala dan selebriti yang membuat berita, mereka berpikir itu semua adalah tentang individual. Akan sangat menyakitkan saat mereka sadar dan melihat cara dunia sebenarnya bekerja.

Jangan Banyak Memuji

Anak-anak butuh pujian untuk membangun harga diri yang sehat dalam pikirannya. Sayangnya, pujian yang berlebihan tidak memberikan banyak harga diri kepada mereka. Anak-anak harus yakin pada diri sendiri dan mengembangkan rasa percaya diri yang dibutuhkan untuk menjadi pemimpin-pemimpin yang sukses. Tetapi jika orang tua selalu memberikan pujian, bahkan saat si anak menulis dengan penanya, atau menendang bolanya, ini dapat membuat anak-anak menjadi bingung dan ia memiliki kepercayaan diri yang salah. SELALU tunjukkan pada anak-anak bahwa orang tua bangga pada semangat dan upaya mereka; tetapi jangan tunjukkan bahwa anak-anak mereka adalah selebriti hebat saat itu tidak benar.

Biarkan Mereka Mengalami Risiko dan Kegagalan

Keberhasilan dalam bisnis dan kehidupan banyak dijalankan oleh risiko. Saat orang tua TERLALU memberikan perlindungan pada anak-anak mereka, maka mereka tidak membiarkan anak-anaknya mengambil risiko dan merasakan konsekuensi. Jika orang tua tidak membiarkan anak-anaknya merasakan kegagalan, mereka tidak akan mengerti tentang risiko. Seorang pemimpin tidak dapat mengambil risiko yang tepat jika ia sendiri tidak tahu pahitnya kegagalan dari risiko yang diambilnya.

Jalan menuju kesuksesan selalu dibuka dengan banyak kegagalan. Saat orang tua mencoba melindungi anak-anaknya dari kegagalan untuk meningkatkan rasa percaya dirinya, anak-anak itu tidak dapat mentoleransi kegagalan, yang sebenarnya mereka butuhkan agar dapat mencapai kesuksesan sebagai seorang pemimpin.

Saat anak-anak melakukan kesalahan atau kegagalan, jangan mempermalukan mereka. Sebaliknya, dukung mereka untuk memperlihatkan kepedulian Anda sebagai orang tua. Ya, mereka BUTUH kepedulian dan perhatian orang tua saat mereka melakukan kesalahan dan gagal. Mereka juga HARUS TAHU bahwa orang tuanya tahu betapa pedih dan menyakitkannya kegagalan yang mereka alami. Dukungan orang tua akan membantu anak-anak untuk ”merangkul” pahitnya kegagalan yang mereka alami dan membantu mereka melewati kegagalan itu. Ya, itulah saat karakter yang kuat sebagai pemimpin masa depan dibangun.

Katakan "Tidak"

Terlalu memanjakan anak merupakan cara yang PASTI untuk membatasi perkembangan mereka menjadi seorang pemimpin di masa depan. Untuk dapat sukses menjadi seorang pemimpin, seorang anak harus dapat menunda kesenangannya dan bekerja keras untuk hal-hal yang lebih penting (baca juga artikel: Karakter Wajib untuk Sukses). Penting sekali agar orang tua membantu anak-anak mereka mengembangkan kesabaran ini. Anak-anak harus menetapkan tujuan dan mengalami kepuasan karena telah rajin melakukan sesuatu.

Memang, saat tidak memenuhi keinginan seorang anak, itu akan membuat si anak merasa kecewa untuk sementara. Akan tetapi, setelah itu anak akan mengerti alasan mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan, dan mereka pun tidak akan melakukan kesalahan atau pun mempermalukan kedua orang tuanya kelak.

Biarkan Anak-anak Menyelesaikan Masalah Mereka

Ada keterampilan yang setidaknya dibutuhkan oleh seorang pemimpin, yaitu saat Anda melakukan sesuatu, Anda pun HARUS ada di sana setiap saat dan MEMBERESKAN masalah apa pun yang mungkin timbul akibat perbuatan Anda. Maka jika orang tua selalu membantu masalah-masalah yang dilakukan dan dialami anaknya, maka si anak tidak pernah membangun kesanggupan kritis untuk menjadi seorang anak yang mandiri. Anak-anak yang selalu dibantu saat mendapatkan masalah dan dibela saat melakukan kesalahan akan terus menunggu bantuan dari orang lain saat mereka sudah besar. Sedangkan seorang pemimpin akan mengambil tindakan, memberikan instruksi, bertanggung-jawab, dan dapat diandalkan saat mereka menghadapi masalah atau melakukan kesalahan.

Memegang Perkataan

Pemimpin-pemimpin sejati itu jelas terlihat di masa mendatang. Memang mereka tidak sempurna, tetapi mereka mendapatkan respek dari orang-orang karena selalu berpegang pada perkataan mereka sendiri. Pada dasarnya, anak-anak dapat membangun kualitas ini secara alami, jika mereka MELIHAT orang tua mereka juga selalu memegang perkataan. Oleh karena itu, orang tua dituntut untuk selalu jujur dalam segala hal, bukan hanya dalam perkatakan dan tingkah laku, tetapi juga jujur tentang siapa diri mereka sebenarnya. Jika orang tua berpegang pada perkataannya, kata-kata dan tindakannya akan selaras dengan apa yang ia katakan tentang siapa dirinya sebenarnya.

Tunjukkan Kekurangan dan Kesalahan

Pemimpin-pemimpin sesungguhnya harus dapat mengolah kesalahan mereka, belajar dari kesalahan, dan melangkah ke depan untuk menjadi orang-orang yang lebih baik. Anak-anak yang merasa orang tuanya sempurna akan diliputi rasa bersalah saat melakukan kesalahan dan mereka akan GAGAL untuk belajar dari kesalahan. Anak-anak SANGAT membutuhkan orang tua yang benar-benar ”manusia”, tidak sempurna, dan melakukan kesalahan, untuk mengajarkan mereka caranya mengolah kesalahan dan belajar dari kesalahan tersebut.

Sebenarnya, tidak peduli saat anak-anak marah atau menentang orang tuanya, bagi mereka orang tua tetaplah pahlawan dan contoh teladan mereka di masa depan. Oleh karena itu, jika orang tua selalu menyembunyikan kekurangan dan kesalahan yang mereka lakukan di masa lalu karena takut anak-anak akan mencontoh dan mengulangi kesalahan yang mereka lakukan, maka anak-anak tidak akan pernah belajar mengatasi kesalahan yang mereka lakukan. Jika orang tua selalu tampil sempurna, tanpa melakukan kesalahan, anak-anak juga akan merasa bersalah saat mereka melakukan kesalahan karena mereka berpikir bahwa hanya mereka yang melakukan kesalahan ini. Oleh karena itu, untuk mengembangkan karakter kepemimpinan dalam diri anak-anak, mereka harus tahu bahwa orang tua mereka pun tidak sempurna.

Sebenarnya setiap orang tua punya caranya masing-masing untuk membentuk anak-anak mereka memiliki karakter yang menarik dalam hidup. Cara-cara di atas hanyalah sebagian kecil yang dapat orang tua lakukan. Untuk dapat mengetahui cara-cara lainnya, Anda dapat menanyakan dari orang tua para pemimpin yang Anda kenal sehingga Anda pun dapat menjadi orang tua yang akan mencetak para pemimpin untuk generasi selanjutnya.

Aza-aza FIGHTING.

Disadur bebas dari: 8 Powerful Ways To Mold Your Children Into Leaders (© www.forbes.com)
Sumber Gambar: Karakter Pemimpin (@ www.peterlim-mba.com)

Hits: 680