VdBackground 01.jpg

Penyebab Skizofrenia

Print
Created on Friday, 19 August 2011 Last Updated on Thursday, 03 April 2014

Skizofrenia merupakan penyakit otak yang timbul akibat ketidakseimbangan pada dopamin, yaitu salah satu sel kimia dalam otak. Penyakit ini adalah gangguan jiwa psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respons emosional dan menarik diri dari hubungan antarpribadi normal. Sering kali diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang pancaindra).
Pada pasien penderita, ditemukan penurunan kadar transtiretin atau pre-albumin yang merupakan pengusung hormon tiroksin, yang menyebabkan permasalahan pada zalir serebrospinal.

Penelitian Computed Tomography (CT) otak dan penelitian post mortem mengungkapkan perbedaan-perbedaan otak penderita skizofrenia dari otak normal walau pun belum ditemukan pola yang konsisten. Penelitian aliran darah, glukografi dan Brain Electrical Activity Mapping (BEAM) mengungkapkan turunnya aktivitas lobus frontal pada beberapa individu penderita skizofrenia. Status hiperdopaminergik yang khas untuk traktus mesolimbik (area tegmentalis ventralis di otak tengah ke berbagai struktur limbic) menjadi penjelasan patofisiologis yang paling luas diterima untuk skizofrenia.

Semua tanda dan gejala skizofrenia telah ditemukan pada orang-orang bukan penderita skizofrenia akibat lesi system syaraf pusat atau akibat gangguan fisik lainnya. Gejala dan tanda psikotik tidak satu pun khas pada semua penderita skizofrenia. Hal ini menyebabkan sulitnya menegakkan diagnosis pasti untuk gangguan skizofrenia.

Skizofrenia dapat menyerang siapa saja. Data American Psychiatric Association (APA) tahun 1995 menyebutkan 1% populasi penduduk dunia menderita skizofrenia.
75% penderita skizofrenia mulai mengidapnya pada usia 16-25 tahun. Usia remaja dan dewasa muda paling berisiko karena pada tahap ini, kehidupan manusia penuh dengan berbagai tekanan (stresor). Selain itu faktor genetik juga dapat membuat seseorang menderita penyakit ini. Namun, mereka yang normal, tidak ada faktor genetik, bisa saja menderita skizofrenia jika stresor psikososial terlalu berat sehingga tak mampu mengatasinya. Bahkan beberapa jenis obat-obatan terlarang seperti ganja, halusinogen atau amfetamin (ekstasi) juga dapat menimbulkan gejala-gejala psikosis.

Sayangnya, kondisi penderita sering terlambat disadari keluarga dan lingkungannya karena dianggap sebagai bagian dari tahap penyesuaian diri. Padahal pengenalan dan intervensi dini berupa obat dan psikososial sangat penting karena jika semakin lama tidak diobati, kemungkinan kambuh semakin sering dan resistensi terhadap upaya terapi semakin kuat. Oleh karena itu seseorang yang mengalami gejala skizofrenia sebaiknya segera dibawa ke psikiater dan psikolog untuk mendapatkan bantuan.

Lihat juga:
Tentang Skizofrenia
Penyebab Skizofrenia
Gejala Skizofrenia
Jenis-jenis Skizofrenia
Diagnosis Skizofrenia
Bantuan bagi Penderita Skizofrenia
Pengobatan Skizofrenia
Kekambuhan Skizofrenia

Disadur dari berbagai sumber (www.psikologizone.com  |  id.wikipedia.org   |  ababar.blogspot.com  |  forumsains.com)

Hits: 5908