VdBackground 02  .jpg

Bagaimana Cara Terbaik untuk Menjadi Lebih Pintar?

Print
Created on Tuesday, 01 October 2019 Last Updated on Tuesday, 01 October 2019 Written by Phi-D


Bayangkan Anda memiliki sebuah ember air. Sewaktu Anda mengisi ember air tersebut, 90% air secara otomatis akan bocor dan keluar dari ember tersebut. Sebagai akibatnya, Anda hanya memiliki sedikit sisa air karena ember tersebut hanya dapat menahan 10% air. Setelah mengetahui fakta tentang ember ini, maka apakah Anda akan mengisi kembali ember tersebut dengan air? Anda PASTI dapat mengambil keputusan yang tegas dan menjawab dengan lantang, “Saya TIDAK akan menggunakan ember air tersebut.”

Akan tetapi, bukan begitu cara manusia belajar. Hampir sebagian besar manusia membuang-buang 90% dari waktu belajar, sumber daya, dan tenaga karena tidak mengerti konsep sederhana yang disebut Piramida Belajar. Piramida Belajar dikembangkan pada tahun 1960 oleh Institut NTL di Bethel, Maine. Dari piramida itu akan terlihat bahwa selama ini manusia telah membuang-buang waktu, mengabaikan berbagai sumber daya, bahkan melakukan segala cara untuk mencegah mereka melakukan pembelajaran yang sebenarnya.

DASAR UNTUK BELAJAR YANG BAIK

Berikut ini adalah hasil penelitian yang diringkaskan dalam Piramida Belajar. Data di bawah ini memperlihatkan perkiraan pengetahuan yang kemungkinan diserap seseorang sewaktu mereka belajar.

90% menyerap pengetahuan saat pelajar mengajarkan orang lain atau segera menerapkan dalam kehidupan.
75% menyerap pengetahuan saat pelajar mempraktekkan apa yang mereka pelajari.
50% menyerap pengetahuan saat pelajar mengadakan diskusi kelompok.
30% menyerap pengetahuan saat pelajar melihat demonstrasi (petunjuk cara).
20% menyerap pengetahuan saat pelajar melihat film atau video singkat.
10% menyerap pengetahuan saat pelajar membaca.
5% menyerap pengetahuan saat pelajar mendengarkan pelajaran dari pengajar mereka.

Ini dapat disimpulkan dari gambar di bawah ini.

Gambar ini dapat diunduh dari Instagram el-Science yang diproduksi oleh Eldadido.

Data di atas memperlihatkan bahwa untuk dapat belajar sesuatu dengan baik dan maksimal, Anda pun harus segera mengajarkannya ke orang lain, membagikan pengetahuan baru Anda, atau bahkan segera menerapkannya dalam kehidupan Anda. Mengapa begitu? Karena saat Anda membuat penerapan pribadi atau segara mengajarkan pengetahuan Anda ke orang lain, Anda akan langsung membuat berbagai kesalahan (baca juga: Mengapa Anda bisa Salah Membuat Keputusan?). Akan ada yang mengkomplain, mengkritik, menyindir, bahkan menjelek-jelekkan pemikiran dan pengajaran yang Anda bagikan. Akan tetapi, disanalah Anda melakukan pembelajaran yang sesungguhnya.

Sewaktu Anda mendapatkan berbagai kesulitan saat menceritakan ulang pengetahuan yang telah Anda dapatkan dan membuat banyak kesalahan, maka Anda akan berupaya sekeras-kerasnya untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan tersebut (baca juga: Orang Terhebat pun Membuat Keputusan yang Salah). Lalu bisa jadi Anda akan mengingat kembali dan mencari referensi tambahan untuk terus membagikan pengetahuan berharga yang Anda miliki. Sebenarnya, berbagai upaya inilah yang akan memaksa otak Anda untuk berkonsentrasi penuh dan di saat inilah pembelajaran Anda mencapai angka 90% – 95% untuk menyerap pengetahuan tersebut dan mempertahankan pembelajaran itu dalam pikiran Anda.

Akan tetapi, Anda bisa saja berkilah bahwa untuk membaca, dan bahkan mendengarkan pengajaran dari pengajar, Anda pun akan berkonsentrasi dengan baik. Dan itu memang benar. Akan tetapi, di saat Anda mendengarkan pengajaran dan membaca pengetahuan, otak Anda seolah berada dalam kondisi “pasif” karena Anda sama sekali tidak melakukan kesalahan dan tidak ada yang mendebat pemikiran Anda. Oleh karena itu, berbagai pengetahuan dan informasi yang otak Anda dengar dan lihat hanya merupakan konsep abstrak, tidak jelas dan sulit dipahami bentuknya. Dan sejelas apa pun pengetahuan yang Anda baca dan dengar, Anda tidak akan pernah dapat menyimpan informasi tersebut dengan baik dalam pikiran Anda. Kenapa? Ada 2 (dua) alasan berikut.

Alasan 1:  Otak Anda akan Berhenti pada Hambatan Pertama

Saat Anda membaca buku, menonton sebuah video, atau mendengarkan sebuah ceramah dalam bentuk audio yang membahas sebuah pengetahuan baru, maka Anda akan sadar bahwa ada setidaknya dua atau tiga konsep yang Anda lupakan hanya dalam waktu beberapa menit kemudian. Anda mungkin tidak percaya sehingga Anda kemudian membaca kembali bab yang sama berulang-ulang. Dan apa yang terjadi? Anda akan semakin sadar bahwa Anda menjadi lupa lebih banyak konsep penting lainnya.

Hal ini disebabkan karena otak akan berhenti pada konsep baru atau hambatan pertama. Otak akan berhenti dan berulang kali berjuang keras untuk mencoba menerapkan konsep baru tersebut secara imajiner dalam pikiran Anda. Tetapi apa yang Anda lakukan? Anda malah terus membaca buku, menonton video atau mendengarkan speaker sementara otak Anda telah berhenti di hambatan pertama. Sementara otak Anda telah terhambat pada konsep pertama, Anda malah terus asyik menambah banyak konsep baru dalam pikiran Anda. Dan tentu saja tanpa informasi yang lengkap, Anda akan selalu punya “informasi yang cacat” dalam pikiran Anda. Namun, “informasi yang cacat” ini dapat segera diperbaiki jika Anda segera membuat kesalahan pertama dengan menerapkan pengetahuan baru tersebut atau mengajarkan pengetahuan yang Anda baca dan dengar ke orang-orang lainnya.

Alasan 2:  Otak Anda Harus Membuat Kesalahan

Tidak peduli seberapa jelas keterangan yang Anda dengar dan baca, Anda tidak akan benar-benar memahami keterangan tersebut. Anda harus membuat kesalahan pertama (baca juga: Jangan Takut Salah Mengambil Keputusan). Hal ini disebabkan karena interprestasi yang Anda bentuk berdasarkan keterangan dari penulis atau pembicara bisa jadi bervariasi. Anda seringkali akan merasa telah membaca atau mendengar suatu keterangan, bahkan menafsirkan keterangan tersebut tetapi kenyataan yang Anda terima atau alami bisa jadi sedikit berbeda dari yang Anda baca atau dengar. Oleh karena itu, Anda hanya dapat menerima informasi yang Anda baca dan dengar jika Anda langsung mencoba menerapkan pengetahuan tersebut atau mengajarkan konsep itu kepada orang-orang lainnya.

TIPS UNTUK BELAJAR

Sebenarnya, setiap orang punya tips terbaik untuk menyerap pelajaran. Ada yang membaca atau mendengar suatu konsep yang baru, lalu menuliskan dalam bentuk rangka. Setelah itu membicarakannya dengan keluarga dan teman-temannya. Ada juga yang kemudian menuliskan artikel tentang pengetahuan tersebut, membuat audio rekaman, menggambarkan ulang dalam bentuk infografik, dan sebagainya. Namun itu semua tidak cukup.

Anda masih harus mendiskusikannya juga dengan teman-teman Anda yang memahami atau sedang mempelajari konsep baru tersebut. Dan pada akhirnya, pengetahuan yang bermanfaat itu perlu diterapkan dalam kehidupan Anda sehari-hari.

Dan selalu ingat ini...

  • Mendengarkan atau membaca itu hanya mendengarkan dan membaca, itu bukan pembelajaran sesungguhnya.
  • Pembelajaran sesungguhnya akan dilakukan jika Anda membuat berbagai kesalahan.
  • Kesalahan-kesalahan PASTI akan Anda buat jika Anda menerapkan apa yang Anda pelajari.

Dan hanya cara inilah yang membuat Anda dapat sepenuhnya memahami dan mengerti 90-95% pengetahuan baru yang Anda pelajari.

Jika Anda tidak melakukannya, maka Anda akan seperti orang-orang lain yang sibuk belajar dan terus menerus berputar dalam kelas untuk terus belajar. Orang-orang ini tidak akan pernah dapat mengerti dan memahami pengetahuan yang mereka pelajari karena mereka TAKUT dan menolak untuk melakukan kesalahan. Menurut mereka melakukan kesalahan itu sesuatu yang menakutkan dan mengganggu. Itu sebabnya mereka terus-menerus hanya membaca buku, menonton video atau mendengarkan audio tentang suatu pengetahuan.

Salah satu alasan terbesar mengapa kebanyakan orang terus berjuang untuk selalu belajar adalah karena adanya daya tahan (resistensi) untuk belajar. Ada kekuatan tersembunyi yang memang membuat setiap manusia bertahan untuk TIDAK melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Memang memiliki karakter dengan daya tahan (resistensi) yang unggul itu sangat baik, tetapi jika itu diterapkan dengan cara belajar, itu akan terlihat sebagai bentuk “kemalasan”; kemalasan untuk membuat penerapan, kemalasan untuk mengalami masalah akibat kesalahan yang dibuat, atau pun kemalasan karena harus mengalami banyak penolakan karena dianggap memiliki pengetahuan yang salah. Dan semua “kemalasan” ini akan memperlambat proses belajar Anda.

Jika kembali ke ilustrasi di awal artikel ini, orang-orang yang “malas” ini seperti orang yang memiliki ember air yang bocor. Mereka akan membuang-buang 90% waktu belajar mereka dan mereka seolah-olah tidak peduli karena mereka berkilah bahwa mereka masih punya 10% air pengetahuan yang tersisa untuk dapat mereka gunakan. Pertanyaannya adalah, tipe manakah Anda?

Aza-aza FIGHTING.

Gambar piramida versi Indonesia dapat diunduh di SINI.

Disadur bebas dari:  How To Retain 90% Of Everything You Learn  (© www.psychotactics.com)
Gambar dimodifikasi dan diterjemahkan dari Learning Pyramid (Cone of Learning) oleh Edgar Dale (© commons.wikimedia.org)



 

Hits: 261