Artikel Terbaru
Anda Tidak Butuh "Kepintaran"! Benarkah?
Banyak orang merasa senang dan tersanjung sewaktu dikenal sebagai orang yang pintar. Itu sebabnya, banyak orang suka belajar dan membagikan pengetahuannya kepada orang lain. Akan tetapi, adakalanya, kepintaran tidak selalu perlu ditunjukkan. Dan bahkan dalam situasi tertentu, Anda tidak selalu butuh kepintaran [Baca juga: Mengapa Manusia HARUS Selalu Suka Belajar?].
Apakah nasihat itu benar?
Mengapa hal itu bisa terjadi?
Ternyata...
Banyak orang sering merasa tersaingi saat berhadapan dengan orang pintar [baca juga: Kompetisi Selalu Membuat Anda Lebih Kuat]. Beberapa orang malah merasa minder saat bertemu dengan orang pintar karena orang-orang yang pintar selalu dapat melihat kesalahan mereka dan sering mengomentari kesalahan mereka. Yang lainnya lagi malah merasa orang-orang pintar hanyalah orang-orang belagu yang sok tahu segala hal.
Oleh karena itu....
Ada pepatah Indonesia
yang sangat menarik dan terkenal,
“Padi....
semakin berisi....
... semakin merunduk.”
Pepatah ini....
mengajarkan bahwa....
semakin tinggi ilmu seseorang, maka ia akan semakin rendah hati. Kenapa bisa begitu? Karena semakin banyak seseorang belajar, maka orang itu akan semakin pintar dan secara bersamaan orang itu semakin sadar bahwa ilmunya banyak yang masih kurang dan belum lengkap [Baca juga untuk belajar secara lengkap, butuh bantuan pengalaman dari orang lain: Bagaimana Cara Terbaik untuk Menjadi Lebih Pintar?].
Itu sebabnya...
orang yang pintar
HARUS selalu mau
untuk belajar lagi...
dan lagi...
dan lagi...
KECERDASAN SETIAP ORANG BERBEDA
Howard Gardner pernah mengungkapkan teori tentang kecerdasan manusia dalam artikel ilmiahnya yang berjudul “Intelligence Isn't Black-and-White (Kecerdasan itu Bukan Hanya Hitam dan Putih Saja)”. Pada artikel tersebut, Gardner membahas bahwa manusia itu punya banyak sekali jenis kecerdasan. Beberapa di antaranya adalah kecerdasan intelegensia (IQ) yang sering dilatih dalam dunia pendidikan formal (sekolah), kecerdasan spiritual (yang didapat dari beragam acara keagamaan), kecerdasan emosional, kecerdasan visual, kecerdasan linguistik, dan sebagainya.
Maka fakta ini...
sedang menjelaskan
bahwa sesungguhnya...
setiap orang PUNYA keterbatasan
dalam memahami SEMUA ilmu
secara S E M P U R N A.
Baca juga: Kenapa Orang Pintar itu “Bodoh”]
Hal inilah yang membuat seseorang tidak perlu menjadi pintar dalam segala hal, terutama saat berhadapan dengan orang lain. Karena seperti teori yang diungkap oleh Gardner, kepintaran dan kecerdasan setiap orang PASTI berbeda-beda. Jadi orang yang pintar di satu bidang, belum tentu jagoan di bidang lainnya [Baca juga: Mengapa Manusia Sering Berbeda dalam Berpikir?].
Namun....
Pertanyaannya...
Apakah benar kepintaran itu tidak selalu dibutuhkan?
[Baca juga: Apakah Pintar saja Cukup?]
KEPINTARAN DAPAT "MERUSAK"
Sedari kecil, semua diajarkan untuk belajar agar menjadi pintar. Tujuannya adalah agar kelak dapat bertahan hidup, tidak mudah dibohongi orang, dapat kreatif, dan sebagainya. Akan tetapi, bagi beberapa orang, menjadi orang yang pintar terkadang malahan dapat menyengsarakan dan membebani. Silakan pertimbangkan beberapa kasus di bawah ini.
Pintar = Tidak Bahagia?
Seorang Ratu yang sangat pintar dan berpengaruh dari salah satu kerajaan di Eropa sangat menentang dan melarang keras seorang profesor untuk menjadikan anaknya seorang pangeran yang pintar. Apa alasan Ratu tersebut? Berdasarkan pengalamannya sebagai Ratu yang pintar dan cerdas, dia pun berargumen, “Semakin banyak pengetahuan seseorang, maka orang tersebut akan semakin sulit menjalani hidup yang normal. Tetapi kurangnya pengetahuan, malah membuat seseorang lebih bahagia.”
Ya, kepintaran dan kecerdasan Ratu ini malah membuatnya sangat lihai melihat segala hal dengan baik sehingga dia memiliki banyak pertimbangan dan sering terlihat ragu-ragu. Bahkan saat membuat keputusan, terkadang kepintaran membuatnya dapat melihat efek buruk dari keputusan tersebut yang membuatnya terkadang sering merasa ketakutan dan diterpa banyak kesedihan dan kecewa. Dan hal ini membuat si Ratu sering lamban dalam memutuskan dan berpikir. Padahal seorang Ratu dituntut ketegasan dan kecepatan dalam membuat keputusan. Itu sebabnya, dia sadar bahwa kepintaran itu sia-sia dan malah membebani tugasnya sebagai Ratu yang bijak dan tangkas.
Pintar = Terisolasi?
Orang-orang yang pintar juga umumnya punya teman yang sangat sedikit dan lebih suka menyendiri. Beberapa orang sering memberikan label bahwa orang pintar umumnya terisolasi dari pergaulan sosial. Kenapa bisa begitu?
Orang-orang pintar sangat terlatih dan peka untuk dapat menemukan beragam masalah di lingkungan, masalah yang ada di orang lain, dan bahkan masalah yang ada di diri sendiri. Bahkan orang-orang pintar, sangat peka untuk dapat menyadari kekurangan dan kelemahannya sendiri. Itu sebabnya, banyak orang pintar sering menjadi minder saat bertemu orang lain sehingga mereka sering “menghancurkan” hubungan sosial dengan orang lain karena merasa lebih aman dan nyaman dengan mengisolasi diri sendiri.
Pintar = Tidak Romantis?
Orang-orang pintar pada umumnya bukanlah orang yang romantis. Mereka suka dengan data, fakta, sains, ilmiah, dan segala realita hidup. Itu sebabnya, kepintaran sering membuat orang lain merasa salah paham dengan cara berpikir orang-orang pintar. Malah dalam beberapa kasus, orang-orang yang terlewat pintar seringkali kehilangan rasa romantis dan terlihat dingin dalam menjalin hubungan dengan orang lain.
Sebagai contoh, silakan pertimbangkan peristiwa di bawah ini yang terjadi antara seorang pria pintar dengan pacarnya. Pria pintar ini ingin memuji pacarnya seperti matahari yang luar biasa. Hal ini disebabkan karena Pria pintar ini tahu kehebatan matahari. Dan karena merasa bahwa pacarnya itu adalah wanita yang hangat dan berpengaruh serta memiliki banyak talenta yang bermanfaat, dia pun ingin menyamakan pacarnya dengan matahari. Namun inginkah Anda meniru Pria ini?
Mmm...
Semua puisi indah
yang pernah ditulis
tidak pernah bilang,
"Matahari itu Indah."
Namun...
Puisi suka bilang,
"Bulan itu Indah."
Maka...
Jika Anda memuji pacar Anda,
"Kamu cantik seperti matahari."
Mmm....
Pacar Anda PASTI akan
"membakar" Anda hidup-hidup.
Sebaliknya...
Jika Anda memuji pacar Anda,
"Kamu itu cantik seperti bulan."
Pacar Anda PASTI tersanjung.
Dan...
Anda pun PASTI akan
bahagia menikmati hidup.
Ya sudah...
Nikmati saja...
Tidak usah berpikir secara pintar!
SIMPAN saja semua data ilmiah!
Jangan bagikan analisa sains!
Masih ngotot?
Tidak percaya??
Ingin tetap terlihat PINTAR???
Silakan hadapi situasi berikut ini...
Pria:
"Bulan tidak punya cahaya."
Wanita:
“Jadi dimatamu, saya itu tidak berguna?!?”
---::--:::o:::--::---
Pria:
"Bulan punya beberapa fase."
Wanita:
“Lalu kamu pikir saya itu orang yang moody?!?”
“Apa kamu pikir saya itu plin-plan?!?”
---::--:::o:::--::---
Pria:
"Permukaan bulan itu banyak lembah dan gunung."
Wanita:
“Apa maksud kamu?!?”
“Kamu mau bilang muka saya tidak mulus?!?”
“Saya banyak jerawat dan bopengan?!?”
<> <> <>
Jadi...
Ternyata....
untuk bahagia dan romantis,
JANGAN pakai kepintaran Anda!
Karena
Terkadang...
Kepintaran malah
membuat seseorang
M E N D E R I T A....
Romantis dan
perasaan bahagia
HANYA membutuhkan
kesederhanaan...
kepolosan...
ketulusan...
Jadi lupakan kecerdasan Anda!
Buang jauh-jauh kepintaran Anda!
Dan jadilah orang yang...
Puitis...
Romantis...
Sedikit bombastis...
Tapi tetap realistis...
Demi sebuah nilai praktis...
Tanpa ada kesan melankolis....
Walau terkadang sedikit dramatis...
Aza-aza FIGHTING.
#DuniaItuUnik
#HubunganManusia
#PintarAdaTempatnya
Artikel ini ditulis sebagai salah satu materi ajar dalam el-Science, Sistem Pendidikan Modern (www.eldadido.com)


