VdBackground 01.jpg

Mana yang Lebih Penting dalam Memimpin? Kecerdasan atau Keberuntungan? [bagian 1]

Print
Created on Wednesday, 10 July 2019 Last Updated on Monday, 15 July 2019 Written by Phi-D

 


Jika suatu saat Anda berkesempatan bertanya pada seorang direktur utama dari sebuah perusahaan, ”Mengapa perusahaan Anda memiliki kinerja yang sangat baik?” Pada umumnya mereka akan bercerita dengan bangga tentang berbagai strategi brilian yang dia rancang dengan menggabungkan berbagai kecerdasan dan kekuatan yang dia miliki sehingga dapat membuat berbagai keputusan tepat untuk membuat eksekusi bisnis yang hebat. Akan tetapi, apakah benar strategi brilian dan keputusan tepat adalah kunci dari keberhasilan dalam memimpin suatu perusahaan?

Pertanyaan di atas bisa jadi malah memancing perguliran banyak pertanyaan lainnya seperti:

Oleh karena itu, saat Lars Sørensen dari Novo Nordisk ditanyakan tentang kecerdasan dan kekuatan yang mendorongnya menjadi peringkat teratas Direktur Utama atau CEO (Chief Executive Officer) dengan kinerja terbaik di dunia versi Harvard Business Review, ia menyatakan bahwa KEBERUNTUNGAN-lah yang membuatnya dapat memberikan kinerja terbaik saat memimpin perusahaannya. Pernyataan Sørensen memperlihatkan bahwa dia adalah pribadi yang sangat sederhana dan rendah hati. Akan tetapi, pernyataan ini pun menimbulkan pertanyaan lainnya lagi: Benarkah hanya dibutuhkan keberuntungan untuk dapat memimpin sebuah bisnis atau organisasi dengan sangat baik? (baca juga tentang hal yang dapat mengacaukan keputusan bisnis pada artikel: Mana yang Lebih Penting dalam Memimpin? Kecerdasan atau Keberuntungan? [bagian 2])

Tidak dapat dipungkiri bahwa untuk dapat memenangkan sesuatu, baik itu dalam  kehidupan pribadi, kehidupan bermasyarakat, kehidupan bisnis, dan sebagainya, dibutuhkan berbagai variasi strategi yang bijak dan cerdas (baca juga: Bermain Catur dalam Berbisnis).Akan tetapi serangkaian tulisan ilmiah yang diterbitkan pada tahun 2015 telah mengukur peranan keberuntungan, keterampilan, dan pengalaman dalam kesuksesan seorang pemimpin perusahaan. Tulisan ini akan membantu menjawab pertanyaan pada judul artikel ini tentang mana yang lebih penting dalam memimpin? Kecerdasan atau keberuntungan? Tulisan ilmiah itu pun memberikan 2 (dua) kesimpulan berikut:

  1. Tidak ada karakter atau keterampilan tertentu yang dapat menjelaskan tentang kinerja seorang direktur utama atau CEO saat memimpin perusahaan.
  2. Keberuntungan dapat memainkan peran yang sangat besar sewaktu memimpin sebuah perusahaan.


Terdapat barisan panjang penelitian yang mencoba mengukur pengaruh dari seorang direktur utama pada perusahaan yang ia pimpin, dan itu menjadi dasar untuk mempelajari berbagai kondisi baru lainnya. Sebagai contoh, terdapat berbagai variasi kontribusi yang diberikan para pemimpin perusahaan untuk memajukan perusahaan yang dipimpinnya. Sebuah jurnal penelitian memperlihatkan terdapat variasi antara 2% - 22% bahwa keberhasilan itu bergantung pada industri yang dipimpinnya. Selain itu terdapat penelitian lain bahwa ”pengaruh kepemimpinan dalam perusahaan” telah meningkat dari waktu ke waktu seperti ditunjukkan pada grafik di bawah dan ini berpengaruh terhadap keberhasilan dalam memimpin perusahaan.



Grafik di atas memperlihatkan bahwa peran kepemimpinan semakin meningkat dari tahun ke tahun. Akan tetapi ini juga memperlihatkan bahwa pemimpin perusahaan bukanlah penggerak utama dalam kesuksesan sebuah perusahaan. Karena seperti yang ditunjuk pada penelitian, industri bisa jadi lebih berpengaruh dalam keberhasilan sebuah perusahan. Tetapi pertanyaan lainnya yang kemudian muncul adalah: Apa faktor yang dapat digunakan untuk membedakan pemimpin perusahaan yang akan berhasil atau gagal? Kriteria apa yang harus dipikirkan sebelum menentukan siapa yang dapat menduduki posisi pemimpin perusahaan?

Keterampilan Memimpin

Keterampilan memimpin tidak secara otomatis dimiliki karena berpengalaman dalam bidang kepemimpinan. Dipilihnya seseorang menjadi pemimpin utama sebuah perusahaan seringkali dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya dan bukan hanya karena memiliki keterampilan memimpin. Oleh karena itu, tidaklah heran jika para manajer perusahaan-perusahaan Amerika hanya didominasi oleh kalangan pria serta memiliki warna kulit putih. Maka sebuah tulisan ilmiah bersama yang ditulis oleh Renee Adams dari Universitas New South Wales, Matti Keloharju dari Harvard Business School, dan Samuli Knupfer dari BI Norwegian Business School dapat membantu mengukur beberapa keterampilan peran yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin tertinggi sebuah perusahaan. Ketiga peneliti ini menggunakan data dari ketentaraan Swedia untuk membandingkan para pria Swedia yang akan menjadi seorang direktur utama dan mereka yang tidak.

Pada tahun 1970 – 1996, Swedia memberlakukan dinas wajib militer pada warganya dan menggunakan sistem ini untuk mengukur kecerdasan dan keterampilan pria-pria muda melalui serangkaian tes kognitif dan wawancara. Para peneliti kemudian menggunakan data ini dan dipadukan dengan data dari sumber lainnya untuk menentukan profesi apa yang kemungkinan akan dicapai pria-pria ini di masa yang akan datang dan berapa banyak upah yang akan diberikan kepada mereka saat bekerja.

Para peneliti ini mendapatkan data yang mungkin dapat Anda tebak: Para direktur utama atau CEO rata-rata lebih cerdas dari kebanyakan orang. Selain itu, mereka juga orang-orang yang luar biasa. Para CEO kelas menengah di perusahaan-perusahaan besar Swedia tercatat memiliki 17% kecerdasan kognitif tertinggi, yang diukur dari 4 (empat) tes dari wajib militer berikut:

  • Penalaran Induktif (proses berpikir dengan mempertimbangkan berbagai bukti faktual untuk membuat kesimpulan yang bersifat probabilitas)
  • Pemahaman Lisan (keterampilan untuk memahami kata per kata dan kalimat)
  • Kemampuan Spasial (keterampilan dalam proses mental untuk mempersepsi, menyimpan, mengingat, mengkreasi, mengubah, dan mengkomunikasikan bangun ruang)
  • Pemahaman Teknis (keterampilan untuk memahami suatu informasi secara mendalam dan menyimpannya dalam bentuk pengetahuan).

Dalam hal ini, para peneliti tidak menjelaskan apakah keterampilan itu adalah bawaan lahir atau dibentuk oleh kehidupan (baca juga: Membentuk Anak-anak memiliki Karekter Seorang Pemimpin). Mereka hanya membandingkan nilai yang didapat oleh para pria tersebut yang kemudian mengantarkan mereka ke tampuk kepemimpinan.

Dari data tersebut, para peneliti ini mendapati bahwa CEO dari perusahaan-perusahaan besar memiliki nilai yang lebih tinggi dari pada CEO perusahaan-perusahaan kecil dan perusahaan-perusahaan keluarga. Akan tetapi ada hal yang unik lainnya, yaitu nilai kecerdasan kognitif para CEO dari perusahaan-perusahaan besar ternyata lebih rendah dari para pekerja profesional lainnya, seperti dokter, pengacara, dan teknisi. Lalu apa yang membedakan keterampilan para pemimpin perusahaan dari para pekerja profesional? Jawabannya adalah wawancara. Keberhasilan dalam wawancara yang membedakan apakah seseorang yang cerdas dalam bidang kognitif akan menjadi seorang CEO atau tidak.

Para peneliti ini menjelaskan, ”Dinas wajib militer memberikan nilai tinggi dalam wawancara sewaktu seseorang memperlihatkan bahwa mereka mau mengembangkan tanggung jawab, memiliki karakter yang ramah, tekun, stabil secara emosi, mandiri dan berinisiatif.” Meski pun wawancara singkat tidak cukup untuk membuktikan berbagai keterampilan dan karakter, tetapi wawancara tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa seorang CEO atau pemimpin tertinggi sebuah perusahaan memang harus memiliki kecerdasan secara kognitif tetapi dia juga sangat membutuhkan hal-hal luar biasa lainnya untuk mendukungnya (baca juga: Ciri-ciri Orang Bermental Kuat). Walau penelitian ini memperlihatkan para CEO harus memiliki banyak talenta, tetapi mereka tidak perlu lebih pintar dari para profesional yang memiliki keterampilan teknis yang dalam. Oleh karena itu, para peneliti memperlihatkan bahwa para pemimpin tertinggi sebuah perusahaan harus mengembangkan keterampilan lainnya, yaitu kesanggupan untuk mendengarkan dan memahami laporan dari para eksekutif manajer di bawah kepemimpinannya (baca juga: Pentingnya Energi Positif dalam Pekerjaan).

Sebagai penutup, para peneliti ini menyimpulkan bahwa hasil penelitian mereka memperlihatkan bahwa para CEO dengan bayaran yang tinggi memang memiliki setidaknya tiga ciri tersebut, keterampilan kognitif, keterampilan wawancara dan karakter diri yang unggul. Karakter-karakter unggul ini memberikan para CEO ini bonus tambahan yang mempermudah mereka menapak tangga jabatan dalam perusahaan, terutama perusahaan-perusahaan besar. Itu sebabnya para CEO ini menerima upah 1200% lebih tinggi dari para pekerja profesional umumnya.

Lalu keterampilan apa lagi yang harus dimiliki seseorang yang umumnya akan memimpin sebuah perusahaan dengan menjadi seorang CEO atau direktur utama? Silakan membaca pada artikel: Mana yang Lebih Penting dalam Memimpin? Kecerdasan atau Keberuntungan? [bagian 2]).

Referensi artikel: Are Successful CEOs Just Lucky? (© hbr.org)
Sumber Gambar: 5 Tips Ampuh Agar Usahamu Bertahan Dalam Persaingan (© laruno.com)

Hits: 347